RSS

Moonlight Melody Chap 13 (End Chap)

moonlight melody yuhuu

Moonlight Melody

Cast : Ryeowook, Sungmin, Kyuhyun

Rated : T

Genre : Romance, Angst, Drama, Action, (GS)

Disclaimer : ff ini hasil dari imajinasi saya, semuanya hanya fiktif dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

*selamat membaca*

~o~

Chapter Sebelumnya 

Ketika bulan memantulkan cahaya peraknya, ijinkanlah aku disana untuk melihatmu.

Ketika angin berhembus di malam hari, ijinkanlah aku menyentuhmu.

Ketika hujan turun, maka ijinkanlah aku pergi dengan semua kerinduan itu.

 

~o~

 

Ya, hanya pada malam-lah, ia mengatakan semua kerinduannya. Hanya pada desauan angin malam, ia mencurahkan betapa ia sangat mencintainya. Walaupun air hujan yang deras membasahi dan menyapu semua ingatan tentangnya, namun tidak ada yang bisa menggantikan ia didalam hatinya. Hanya dengan melihat seulas senyum diwajah indahnya itulah yang menjadi kekuatan untuk Lee menjalani kehidupan ini. Kendati sebuah janji telah ia ucapkan, dan ia coba untuk menepatinya, itu hanyalah alasan agar ia bisa memperlihatkan bagaimana perasaan yang sesungguhnya untuk Putri Kim. Tidak ada yang bisa menggantikan kebahagiaan hatinya dari Putri Kim. Perasaannya akan tetap sama, sejak awal ia mencintai Putri Kim, hingga akhir hidupnya. Seandainya bisa, walaupun ia tidak bisa memiliki Putri Kim pada kehidupan sekarang, setidaknya dia ingin meskipun sekali, memiliki Putri Kim di kehidupan berikutnya.

 

 

~o~

 

Putri Kim terpejam saat ujung pedang Gubernur Yun menghujam kearah perutnya.

Tenang… bahkan semesta pun menyambut dirinya dengan suasana malam yang sepi. Tiada angin dan tiada sedikitpun suara. Perih, sakit ataupun panas di perutnya, tidak ia rasakan. Bagaimana tajamnya pedang itu merobek kulitnya tidak ia rasakan juga. Beginikah rasanya kematian? Apakah setenang ini? Apakah tiada rasa sakit, kematian untuk orang seperti dirinya?

 

Beberapa detik berlalu, dan Putri Kim merasa ini bukanlah kesunyian yang biasa. Ada sesuatu yang janggal yang ia rasakan. Perlahan, ia memberanikan diri untuk membuka matanya. Satu pemandangan yang ia lihat adalah kaki seseorang yang kini berdiri membelakanginya. Tanpa perlu memperjelas pandangannya, Putri Kim dapat mengenali siapa yang berdiri didepannya saat ini. Mata Putri Kim terbelalak menyadari apa yang ada dihadapannya kini.

 

“Lee…” suara yang lemah, terdengar keluar dari bibirnya yang gemetar.

 

Gubernur Yun tampak menancapkan pedangnya tepat di perut Lee. Pria itu menjadikan dirinya tameng agar pedang itu tidak bisa melukai Putri Kim. Entah apa yang ada dalam pikiran Lee saat ini. Ia telah mempertimbangkan segala kemungkinan, dan menurutnya, keputusan inilah yang dirasakan tepat. Mengorbankan diri untuk keselamatan Putri Kim dan menghabisi Gubernur Yun dengan tangannya sendiri dari jarak yang sangat dekat.

 

Gubernur Yun tampak kaget karena ia tidak menyangka, secepat itu Lee berada dihadapannya dan menghalangi rencananya.

 

“hah, kau pikir kau bisa menyelamatkannya? Bodoh” ejek Gubernur Yun sambil menarik pedang dari perut Lee.

Secara otomatis darah mengalir dari perut Lee. Ia menundukkan tubuhnya sambil berpegangan pada pedang yang ada di tangannya. Pedang yang telah diberikan oleh Tuan Kim untuk keselamatan putrinya.

 

“tunjukkan padaku, apalagi yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan wanita itu?” tantang Gubernur Yun sambil menebaskan pedangnya pada Lee. Tapi sebelum pedang itu menyentuh kulitnya, dengan sigap Lee menghunuskan pedangnya.

 

“coba saja kalau kau berani menyentuh Putri Kim, kepalamu tidak akan pernah selamat” Lee menyeringai sambil bangkit kembali.

 

Pedang yang ia pegang seolah memberikan tenaga untuk Lee. Pedang itu yang harus memberi keadilan untuk hidup Putri Kim. Pedang itu yang akan mengakhiri kehidupan Gubernur Yun yang sangat menjijikan.

 

Lee sudah bisa berdiri dengan kedua kakinya. Walaupun darah mengalir dari perutnya, ia tidak merasakan apapun. Yang ada dalam benaknya adalah menghabisi Gubernur Yun dengan tangannya sendiri. Gubernur Yun tidak mau kalah, ia melihat keadaan Lee sebagai kesempatan untuknya menyingkirkan penghalang terakhirnya. Pedangnya berayun ke kanan dan ke kiri untuk melukai tubuh Lee, namun pemuda itu bisa menghindar dengan tangkas.

 

Lee hanya menyeringai melihat bagaimana usaha Gubernur Yun yang ingin membunuhnya. Dengan mudah ia bisa membaca gerakan dan trik apa saja yang digunakan gubernur tua itu padanya. Ia mencengkram pegangan pedang itu dengan sangat kuat. Saat Gubernur Yun menghunuskan pedang padanya lagi, ia dengan serta merta menusukkan pedang itu di perut Gubernur Yun. Laki-laki tua itu merasa kaget melihat perlawanan Lee. Ia memundurkan tubuhnya untuk menghindar dari serangan Lee. Tidak menunggu waktu yang lama, Gubernur Yun mengarahkan pedangnya ke kanan dan ke kiri untuk melukai Lee, tapi tidak berhasil. Meskipun darah segar itu masih mengalir di perut Lee, namun ia masih memiliki tenaga untuk menangkis setiap serangan yang dilancarkan oleh Gubernur Yun.

 

Sekarang ini, Lee memberikan serangannya untuk Gubernur Yun. Pedang yang ada di tangannya sudah beberapa kali melukai kulit Gubernur Yun. Laki-laki tua itu nampak kelelahan menangkis pedang Lee. Beberapa kali suara dentingan pedang terdengar memekakkan telinga. Saat kedua pedang itu saling menahan, Lee menyeringai menang. Gubernur Yun tidak mengerti arti seringaian pemuda itu . Dia lengah, itulah saat yang dinantikan Lee sejak tadi. Tanpa membuang waktu, Lee menebas lengan kanan Gubernur Yun yang memegang pedang, hingga terlepas dari sendinya.

 

Sorotan mata penuh dendam dan amarah itu kini semakin terbakar. Melihat tangan Gubernur Yun yang tergeletak di tanah, membuatnya tersenyum menang. Laki-laki tua itu kini terduduk di tanah. Memegangi lengan kanannya yang kini sudah tiada. Darah segar mengucur deras membasahi pakaian dan tanah yang ia pijak saat ini. Dengan gemetar, Gubernur Yun beringsut mundur. Rasa sakit dan panas di tangan kanannya membuatnya meringis perih. Apalagi saat melihat Lee yang berjalan mendekati dirinya sambil mengacungkan pedang seolah menakuti dirinya.

 

“a..ampuni aku…. Aku mohon….” suara Gubernur Yun terdengar bergetar. Ia sadar, pada posisinya saat ini, dengan mudah Lee bisa menghabisinya kapan saja.

 

Mendengar permohonan Gubernur Yun, membuat Lee menyeringai jengah. Lee semakin mempermainkan pedang di tangannya untuk menakuti Gubernur Yun.

 

“ampun katamu? Hah, apakah saat kau membunuh Tuan Kim, kau mempedulikan permintaannya?”

 

Gubernur Yun hanya terdiam, tubuhnya gemetar ketakutan.

 

“maafkan aku… aku benar-benar minta maaf…”

 

“semudah itu kau meminta maaf Gubernur Yun. Tapi kau telah melakukan banyak kesalahan. Kesalahanmu bukan hanya pada Tuan Kim, tapi pada seluruh rakyat Joseon… apa kau mengerti itu?”

 

“sungguh…. Aku… aku akan bertaubat. Jika kau mengampuniku, maka aku akan membagikan seluruh kekayaanku untuk rakyat Joseon. Aku berjanji” ratap Gubernur Yun dengan suara yang bergetar.

 

“mengapa kau harus meminta maaf padaku, pergilah, mintalah ampun pada Putri Kim” perintah Lee.

 

Dengan tergopoh-gopoh, Gubernur Yun menghampiri Putri Kim yang berdiri disana. Lalu, Gubernur Yun menjatuhkan dirinya tepat di kaki Putri Kim.

 

“aku mohon Putri Kim…. Ampunilah aku… maafkan kesalahanku padamu… dan juga pada ayahmu… maafkan aku….”

 

Melihat keadaan Gubernur Yun saat ini membuat Putri Kim merasa tidak tega. Ia hanya terpejam sambil memalingkan wajahnya dari Gubernur Yun yang saat ini meratap di kakinya.

 

“enyahkan tangan kotormu dari Putri Kim” bentak Lee sambil menendang Gubernur Yun.

Laki-laki tua itu terpental, tapi segera ia bersujud-sujud kembali di hadapan Putri Kim dan Lee sambil menangis dan meratap agar mereka bisa mengampuni dirinya.

 

Lee menatap Putri Kim dengan iba. Dia bisa mengetahui apa yang Putri Kim rasakan saat ini. Bingung karena melihat keadaan Gubernur Yun yang tidak berdaya, tapi api dendam itu  masih terlihat dari sorot mata Putri Kim.

 

“habisi dia Lee” bisik Putri Kim lirih. Lee menatap tidak percaya pada pendengarannya.

“habisi dia. Dia adalah penyebab kesengsaraan banyak orang. Bukan hanya keluargaku, tapi seluruh rakyat Joseon” jelas Putri Kim masih tetap tidak mau menatap Gubernur Yun.

 

Mendengar kata-kata Putri Kim, semakin kencang Gubernur Yun berteriak minta ampun. Lee mengangguk paham. Dia mendekati Gubernur Yun yang beringsut mundur. Semakin ia melihat Lee yang mendekatinya, semakin ia ketakutan. Tubuhnya terhenti saat punggungnya menyentuh sebuah batu besar.

 

“aku mohon… jangan bunuh aku…” kembali bibirnya bergetar ketakutan.

 

“ini adalah keadilan untukmu Gubernur Yun… terimalah” lirih Lee pelan sambil mengacungkan pedangnya.

 

“jangan… jangan bunuh aku… aku… mo…” suara Gubernur Yun tidak terdengar lagi saat pedang Lee menebas tepat di lehernya.

 

Putri Kim melotot ngeri saat kepala itu menyentuh kakinya. Tubuhnya gemetar dengan hebat. Saat kakinya sudah tidak sanggup berdiri, Lee segera meyangga tubuh lemahnya. Ia merangkul tubuh Putri Kim agar menjauh dari tempat itu. Ini adalah pemandangan yang pertama kali disaksikan oleh Putri Kim. Pembunuhan, dan kematian yang kejam. Dengan susah payah, Putri Kim melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

 

“tenangkan hatimu Putri Kim… dia pantas menerimanya” bisik Lee pelan. Nafasnya sudah mulai tidak teratur. Tenaganya perlahan mulai hilang. Hingga beberapa meter mereka meninggalkan tempat dimana Gubernur Yun terbunuh, tubuh Lee tidak sanggup berdiri lagi. Sendi dan seluruh otot tubuhnya lemas. Pedang di tangannyapun turut terlepas. Saat tubuhnya limbung keatas tanah, tubuh Putri Kim juga ikut terjatuh.

 

“Lee…” Seolah baru menyadari apa yang terjadi pada pemuda itu, Putri Kim segera mengguncangkan tubuh Lee yang terbaring lemah.

 

“Lee, aku mohon buka matamu…” Putri Kim mengguncangkan pipi pucat Lee. Tubuhnya yang kehabisan banyak darah,kini terlihat semakin pucat dengan sinar rembulan yang menerangi tempat itu.

 

Terdengar Lee yang terbatuk, dan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Putri Kim segera meraih kepala Lee dan membawanya kedalam dekapan dadanya. Tetesan demi tetesan airmata Putri Kim semakin membasahi pipi Lee.

 

“jangan tinggalkan aku Lee. Aku mohon…” ratap Putri Kim sedih. Hingga tangisannya terhenti saat ia merasakan sentuhan dingin di pipinya. Ia menatap Lee yang tergolek lemah di pangkuannya.

 

“ja…jangan me..nangis…” bisik Lee sangat pelan, sambil jemarinya berusaha mengeringkan airmata Putri Kim. Jemari yang biasa dengan kuat memegang pedang untuk melindunginya, kini terasa sangat lemah dan dingin. Mendengar perkataan Lee, tangisan Putri Kim semakin deras. Hatinya sakit melihat orang yang selalu melindunginya kini terbaring tidak berdaya seperti ini. Apalagi saat ia melihat luka yang ada di perut Lee, dirinya semakin menangis pedih. Demi dirinya, Lee rela mengorbankan dirinya sendiri. Putri Kim menggenggam erat jemari tangan Lee. Seolah dengan genggaman tangan mungilnya itu, bisa menghangatkan lagi tubuh Lee yang terasa dingin.

 

“bertahanlah Lee.  Bertahanlah…” Putri Kim menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin kehilangan Lee. Lee adalah sahabat yang selalu ada untuknya saat ia sedih. Lee adalah pelindung, dimanapun Putri Kim berada.

 

“aku… aku telah memenuhi janjiku pada Tuan Kim…” bersamaan dengan kata-kata itu, darah kembali keluar dari mulut pemuda itu.

 

“maafkan aku Lee… kau… kau tidak seharusnya mengorbankan dirimu seperti ini… maafkanlah aku…” Putri Kim mengusap darah yang mengalir di bibir Lee.

 

“Tuan Kim…. Beliau… datang menjemputku….” disela nafasnya yang terengah, Lee mencoba untuk tersenyum, dia tidak ingin membuat Putri Kim khawatir. Walaupun dia tidak berdaya, tapi dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Putri Kim. Sekali lagi Lee tersenyum, dan Putri Kim tahu apa arti senyumannya kali ini. Dengan air mata yang mengalir deras, Putri Kim menganggukan kepalanya. Dia sangat berterima kasih pada Lee yang selalu melindungi dan menjaganya. Mempertaruhkan nyawa, walau bahaya selalu mengintai mereka.

 

“gomapseumnida… Lee….” bisik Putri Kim parau. Walaupun sulit, tapi Putri Kim bisa mengeluarkan suaranya. Hanya kata itulah yang bisa ia berikan untuk Lee. Bersamaan dengan suara Putri Kim yang menghilang tertiup angin, jemari itu, yang sejak tadi ia pegang, kini terkulai lemas di atas perut dimana luka itu menganga. Luka hati, dan luka sayatan itu kini tiada akan terasa lagi. Menghilang dalam senyapnya malam.

 

Putri Kim semakin erat memeluk tubuh kaku Lee. Ia tidak menyadari kapan roh itu meninggalkan pemiliknya. Yang ia sadari hanya tubuh Lee yang semakin dingin dan kaku. Semakin ia memeluk erat jasad itu, semakin airmatanya tidak bisa terbendung. Tangisan itulah yang menemani Putri Kim saat ini. Walaupun ia memohon pada langit, agar mengembalikan Lee padanya, tapi itu adalah permintaan sia-sia yang tidak mungkin terwujud. Dalam hatinya ia hanya bisa melafalkan maaf dan terima kasih. Begitu besar pengorbanan Lee untuknya. Begitu besar rasa sakit yang harus pemuda itu tanggung selama hidupnya, hanya demi seorang gadis sepertinya.

 

Tanpa ada yang mengetahui, seseorang tampak berdiri tidak jauh dari Putri Kim. Dia melihat bagaimana Lee melepaskan nafas terakhirnya. Ia membiarkan Lee tenang di pangkuan orang yang selama ini dicintai oleh mereka berdua. Hanya beberapa detik ia bisa memberikan kebahagiaan untuk Lee. Namun, laki-laki itu telah memberikan seluruh kebahagiaannya untu dirinya dan orang yang dicintainya. Rasanya tidak adil jika ia harus berada di tengah mereka saat ini.

 

Langit yang sejak tadi cerah, kini telah tertutup awan mendung yang tebal. Sampai tiba saatnya rintik demi rintik itu membasahi bumi yang telah basah dengan darah. Putri Kim semakin terlarut dalam kesedihannya. Apa yang harus ia lakukan??

Saat kebingungan itu melanda hatinya, ia merasakan pelukan hangat di punggungnya. Ketika ia menoleh kearah kanannya, ketenangan dan kelegaan kembali muncul walaupun rasa sedih itu masih ada di hatinya.

 

“uljima….” bisik pria itu lembut. Bangsawan Cho mengusap lembut kepalanya lalu membawa Putri Kim dalam pelukannya. Keduanya menangis dalam diam mengantarkan Lee dalam ketenangan.

 

Pada satu sisi hati Bangsawan Cho, ia merasakan iri. Karena Lee bisa menepati tugasnya hingga akhir. Disisi lain, ia merasa Lee sangat berterima kasih atas pengorbanan Lee untuknya. Pengorbanan yang entah dirinya bisa melakukannya atau tidak.

 

‘Gomapseumnida Lee… terima kasih atas semua pengorbananmu untukku….’ ucap Bangsawan Cho dalam hati.
*********

 

Tanpa terasa puluhan purnama telah berlalu meninggalkan peristiwa itu. Perubahan demi perubahan kini telah terjadi baik itu di Istana Timur maupun di Istana Bangau Terbang. Banyaknya dokumen dan barang-barang yang hancur akibat kebakaran waktu itu, kini Istana Bangau Terbang hanya menjadi istana kecil tempat dimana Walikota Cho dan istrinya tinggal. Meskipun kerajaan hendak memberikan istana yang baru, tapi keluarga itu menolaknya, karena bagi mereka terlalu banyak kenangan indah telah mereka lalui di Istana Bangau Terbang ini.

 

Bangsawan Cho dianugerahi sebagai Gubernur, pengganti Gubernur Yun. Berkat Bangsawan Cho, seluruh pengkhianatan yang dilakukan oleh China pada kerajaan Joseon dapat terbongkar dan diselesaikan hingga tuntas. Karena rasa cintanya pada negara, Bangsawan Cho menetapkan undang-undang yang sangat ketat untuk para pejabat. Tidak ada lagi pajak yang tinggi untuk rakyat miskin, dan fasilitas istana yang berlebihan untuk pejabat kerajaan. Semuanya berjalan adil dan sesuai dengan takarannya. Kerajaan telah memberikan istana baru untuk Bangsawan Cho, tapi dengan tegas ia menolaknya. Ia lebih memilih menjadikan Istana Timur sebagai tempat tinggalnya sekaligus tempatnya bekerja. Dengan berada di Istana Timur, maka ia bisa merasakan bagaimana sebuah pengorbanan terlihat dengan nyata. Dan ia bisa merasakan kekuatan untuk menghilangkan ketidak adilan, saat ia melihat tempat dimana Gubernur Yun terbunuh.

 

Gubernur Cho, saat ini tengah menikmati secangkir teh, sambil membaca laporan atas pemasukan pajak yang baru saja diterima kerajaan dari para pejabat. Saat ia hendak menikmati minumannya kembali, sebuah tangan kecil terasa menarik-narik ujung pakaiannya.

 

Saat ia merendahkan kertas laporan yang menutupi matanya itu, terlihatlah wajah imut nan lucu kini tengah cemberut di balik meja.

 

“Ayaah…. Ayo kita bermain…” suara ceria dan merajuk kini menghampiri telinganya.

 

“aigoo… apa kau tidak lihat ayah sedang bekerja” Gubernur Cho mencoba bernegosiasi dengan putra nya itu.

 

“tapi, diluar sedang turun salju. Ayo kita bermain salju…” rengek anak itu manja.

 

“anakku, kau jangan mengganggu ayah. Lihatlah dia sedang bekerja” Putri Kim segera menghampiri putranya yang kini berusia empat tahun itu untuk diajak bermain dilain tempat.

 

“tapi aku ingin bermain dengan ayah…”

 

“suamiku… apa kau tidak keberatan jika menunda dulu sebentaaaaar saja pekerjaanmu itu” pinta Putri Kim agak memanja.

 

Gubernur Cho hanya menggelengkan kepalanya. Baik istri dan anaknya, sama saja. Sama-sama tidak bisa ditolak kemauannya..

 

“kau ayah yang sangat mengagumkan” puji Putri Kim sambil tersenyum.

 

“tentu saja. Dan seharusnya, Cho junior tidak bermain dengan ayahnya terus, tapi dia harus punya adik agar menemaninya bermain” goda Gubernur Cho sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

“aish…. Suamiku… kau itu… dia baru empat tahun, belum siap untuk memiliki seorang adik’ Putri Kim tersenyum dengan malu.

 

“tapi, jika adiknya telah lahir, pasti dia akan siap dengan sendirinya” Gubernur Cho mendekati wajah istrinya yang merona merah. Saat bibirnya akan meraup bibir ranum itu, teriakan kecil terdengar dari arah depannya.

 

“ayaaaah… ayo bermain salju”…

 

…T H E   E N D…

 

Akhirnya… setelah tersimpan dengan baik selama beberapa bulan, ff ini bisa diselesaikan juga. Terima kasih bagi kalian yang masih membaca ff ini.

Gimana nih endingnya? Semoga memuaskan yah. Itu, bangsawan Cho udah jadi gubernur. Dan keluarganya hidup bahagia selamanya.

Trus gimana akhir hayat Gubernur Yun? Semoga apa yang ia alami setimpal dengan yang telah ia lakukan pada keluarga Kim. Hehe.

Aah, dan itu Lee. Tadinya mau dibikin minwook saja. Tapi jadi nggak nyambung dengan alurnya. Mungkin bkin cerita yang terpisah aja kali yah.

Akhir kata, selamat berkomentar yah gaiss.. See u next time on other ff. wehehe. Sayonara… 🙂

 

 

 

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2014 in (FF) Moonlight Melody

 

Tag: , , , ,

MinWook Series: Birthday Gift

Happy Birth Day Ryeowook ^^~

 

Ryeowook menutup laptopnya dengan kasar. Dalam hati ia merasa menyesal mengapa harus melihat fancam tentang Sungmin di Youtube tadi. Memang, dirinya sangat merindukan Sungmin hingga ia mencari-cari video tentang hyung-nya itu di Youtube. Tapi, ia mengutuk jemarinya yang mengklik salah satu video yang berisi KyuMin moment. Terbayang lagi bagaimana senyuman Sungmin saat ia memeluk Kyuhyun dengan lembut. Dan bagaimana kedua tangan itu saling menggenggam satu sama lain.

blue-all-around-1-1280x1024

 

“aaish…. Menyebalkan” Ryeowook mempoutkan bibirnya kesal.

 

Saat ini waktu menunjukkan pukul sebelas malam, dan dirinya masih terduduk di sofa di ruang tengah. Tidak ada rasa kantuk di matanya, dia hanya melirik kesal kearah jam dinding, sambil menunggu kepulangan seseorang ke apartemen Super Junior.

 

Perayaan ulang tahunnya telah lewat berjam-jam yang lalu. Tapi, bagaimana bisa Sungmin belum mengucapkan satu kalimat itu untuknya. Ucapan selamat ulang tahun yang sejak tadi ia nantikan dari bibir Hyung-nya tercinta. Ryeowook kembali bersedekap sambil memikirkan Sungmin. Kemana perginya Sungmin, kenapa hingga jam sebelas malam seperti ini, dia masih belum pulang juga? Ryeowook memang marah, selain karena video KyuMin yang tanpa sengaja ia putar tadi, juga karena Sungmin sangat telat mengucapkan selamat ulang tahun untuknya, tapi, dalam hati ia tidak bisa menghilangkan rasa khawatir yang melingkupi dadanya. Ia khawatir bagaimana jika hal buruk terjadi pada Sungmin, karena Hyung-nya itu masih belum pulang juga. Mungkin cinta memang buta, sesakit apapun hatinya, tetap saja masih ada sedikit perasaan cinta di sudut hatinya.

 

Cklek

 

Pintu depan terbuka, dan Ryeowook dapat dengan mudah menerka siapa orang yang mulai masuk kedalam apartemen hanya dari langkah kakinya. Tentu saja ia mengenal siapa yang datang, ia sudah begitu kenal dengan satu orang ini. Walaupun dari jarak ribuan mil, ia bisa merasakan jika Sungmin datang menghampirinya. Oke Ryeowook, itu terlalu berlebihan. Sekarang saatnya memasang wajahmu yang paling menakutkan, dan jangan pernah menyapa Sungmin duluan. Oke.

 

Ryeowook menarik nafas, lalu bersedekap sambil menonton TV di hadapannya. Sungmin yang sedang berjalan masuk, segera menghentikan langkahnya, ia terlihat kaget melihat seseorang yang duduk di sofa dengan ekspresi yang sangat datar, dingin dan juga tanpa gerakan sama sekali.

 

“Wookie… kau mengagetkanku” Sungmin mengelus dadanya, merasa lega karena ternyata yang duduk di sofa itu adalah Ryeowook.

 

Tapi, kelegaannya belum berakhir karena ia tidak mendengar jawaban dari bibir dongsaengnya ini. Sungmin mendekati Ryeowook lalu duduk di sebelahnya, ia menatap wajah Ryeowook yang masih belum meliriknya.

 

“Wookie, saengil chukae ne…. Mian, aku telat mengucapkannya padamu” kata Sungmin sambil merangkul bahu Ryeowook dan tidak lupa ia memasang senyum yang paling manis, yang tidak pernah ia perlihatkan pada siapapun kecuali pada Ryeowook. Tapi, jangankan merespon, Ryeowook sedikitpun tidak meliriknya sama sekali. Dan Sungmin menyadari hal ini. Segera dia melepaskan rangkulan di bahu Ryeowook, lalu mengacak-acak isi tasnya, mencari sesuatu untuk diberikan pada Ryeowook.

 

Padahal, dalam hati, Ryeowook berusaha sekuat mungkin agar tidak merespon Sungmin. Ia tidak pernah mengelak, bahwa senyuman manis Hyung-nya tadi bisa membuat hatinya meleleh-leleh, seperti es krim yang kepanasan. Tapi karena ia gengsi, dan juga karena masalah video KyuMin itu, bisa membuat hati Ryeowook mengeras laksana batu karang.

 

“naah, ini, walaupun ini adalah kado yang sederhana, tapi aku harap, kau bisa menyukainya Wookie” kata Sungmin lembut sambil memperlihatkan kotak yang terbungkus kertas kado kehadapan Ryeowook.

 

‘tahan Ryeowook, jangan meliriknya. Biarkan saja. Paling isinya hanya jam tangan. Tahan tahan…’ hatinya mengingatkan.

 

Masih tidak ada respon, Sungmin mulai cemas. Ada apakah dengan dongsaengnya ini? Hampir tengah malam, dan ia hanya diam saja, jangan-jangan Ryeowook kerasukan. Tapi tidak mungkin, saat ini kan si evil maknae sedang tidak ada di apartemen.

 

“Wookie, gwenchana???” Sungmin menatap lekat wajah Ryeowook, yang jika dalam keadaan yang biasa-biasa bisa membuat wajah Ryeowook memerah dan tersenyum malu. Tapi kali ini, hanya ekspresi datar yang diperlihatkan oleh laki-laki penyuka jerapah itu.

 

“Wookie, katakan padaku, apa yang terjadi? Sejak tadi kau hanya diam. Apa hyungdeul mengganggumu?” Sungmin menarik kepala Ryeowook agar mau menatapnya. Sesaat tatapan keduanya bertemu, dan dapat Ryeowook rasakan, saat ini Sungmin pasti mencemaskannya.

 

“ani” jawab Ryeowook singkat.

 

“lalu, kenapa kau hanya diam. Sejak tadi kau tidak merespon ucapanku. Kau marah, karena aku telat memberikan ucapan ulang tahun untukmu?”  Ryeowook menghindari tatapan mata Sungmin, yang tepat menatap matanya.

 

“sedikit” jawab Ryeowook pelan, dan segera ia mempoutkan bibirnya karena sudah menjawab seperti itu.

 

“haha…. Mianhe, aku bukannya lupa, hanya saja tadi aku sangat sibuk bersama Sungjin, eumh, dan aku tidak mau mengucapkannya lewat telpon, karena itu rasanya kurang spesial, makanya walaupun malam, aku tetap datang ke dorm untuk mengucapkannya secara langsung padamu” terang Sungmin panjang lebar. Namun, hal itu tetap tidak mengubah ekspresi kesal di wajah Ryeowook.

 

Sungmin kebingungan. Jujur, dia paling tidak tahan jika melihat Ryeowook yang sudah badmood seperti ini. Sepertinya bukan hanya masalah keterlambatannya yang membuat Ryeowook marah, tapi ada masalah lain.

 

‘hah, kau cerdas Sungmin. Ayo, sekarang cari, apa penyebab Wookie jadi marah seperti ini’ sebuah lampu yang menyala muncul di atas kepala Sungmin.

 

Tanpa membuang waktu, Sungmin mengedarkan pandangannya mencari kira-kira apa penyebab Ryeowook jadi seperti ini. Lalu, tatapan matanya tertumbuk pada laptop yang berada di hadapan Ryeowook. Entahlah, tapi firasat hatinya mengatakan, bahwa laptop itulah yang menjadi sumber bencana untuknya. Tentu saja bencana, karena Ryeowook yang badmood sekarang. Segera Sungmin meraih laptop tersebut lalu membukanya. Tampak sebuah video yang hanya diputar sebagian terlihat di layar laptop. Ryeowook tidak komentar sedikitpun, ia membiarkan hyungnya melihat sendiri apa yang membuatnya jadi seperti ini. Sungmin melihat judul video yang tadi dilihat Ryeowook, dan dia hanya bisa membelalakan matanya.

 

“Untuk apa kau melihat video seperti ini Wookie?”… “Kyumin couple moment…” gumam Sungmin pelan.

“dengar, ini hanyalah fanmade, kau jangan terpengaruh oleh video seperti ini” jelas Sungmin.

 

“tapi kau terlihat senang saat memeluk Kyuhyun” tukas Ryeowook dingin.

 

“aigoo, kau cemburu pada Kyuhyun? Ayolah Wookie, ini kan hal yang biasa. Setiap hari aku memeluk Kyuhyun dan kau tidak keberatan dengan itu”

 

“tapi ini berbeda Hyung. Kau memeluknya penuh dengan perasaan. Dan, ah, lihat saja genggaman tangan kalian itu. Fans juga tahu, terlalu banyak perasaan yang Hyung berikan untuk Kyuhyun” kata Ryeowook sengit.

 

“aniyo Wookie, ini hal yang biasa, sama seperti ketika aku memelukmu…”

 

“jadi Hyung menyamakan aku dengan Kyuhyun? Jadi Hyung tidak pernah menganggapku spesial? Baiklah kalau begitu” Ryeowook beranjak dari duduknya, dan Sungmin menatapnya dengan tatapan kaget. Ia tahu, masalah besar telah menantinya di depan sana.

 

“W-Wookie, tunggu. Bukan itu maksudku. Kau tahu kan, kau itu sangat spesial untukku… dan kau…” Sungmin mengejar Ryeowook hingga di depan kamarnya, dan perkataannya harus terpotong begitu saja saat pintu kamar Ryeowook tertutup rapat dan Sungmin mendengar suara pintu yang terkunci dari dalam. Ia mendesah frustasi. Kenapa Ryeowook harus menjadi pencemburu di saat seperti ini???

 

~o~

 

Selesai sarapan pagi, semua member kecuali Sungmin dan Ryeowook tampak berpencar untuk menjalankan skedulnya masing-masing. Kebetulan hari ini, hanya MinWook yang memiliki waktu bebas. Sungmin duduk di sofa, sedangkan Ryeowook sedang mencuci piring yang terakhir. Setelah selesai dengan tugasnya, ia masuk kedalam kamar yang tak lama kemudian ia keluar lagi sambil membawa sehelai kertas.

 

Ryeowook mendudukkan dirinya disamping Sungmin yang tetap menatap layar kaca. Menyadari Ryeowook duduk disampingnya, Sungmin segera bersiap untuk memulai percakapan. Bibir Sungmin sudah terbuka untuk mengatakan sesuatu, tapi Ryeowook mengangkat tangan kirinya mencegah agar Sungmin tidak bersuara.

 

“aku sudah memikirkan ini semalaman. Aku yakin Sungmin Hyung tidak seperti itu padaku. Aku yakin, aku tetap menjadi orang spesial di hati Sungmin Hyung” mendengar kata-kata Ryeowook, Sungmin menganggukan kepala tanda setuju.

 

“tapi tunggu, jangan senang dulu” tukas Ryeowook.

“untuk memperbaiki perasaan hatiku semalam, aku akan meminta Sungmin Hyung melakukan apa yang menjadi keinginanku. Bagaimana? Dan aah, anggap saja sebagai hadiah ulang tahunku. Setuju?” tanya Ryeowook sambil menatap wajah Sungmin.

 

“eummh… baiklah. Jika itu keinginan Ryeowook, aku akan mengabulkannya” angguk Sungmin.

 

“janji?”

 

“yups, aku berjanji”

 

“baiklah kalau begitu. Ini, aku sudah menuliskan apa saja yang aku inginkan. Dan Hyung, kau harus mengabulkannya” kata Ryeowook sambil menyerahkan sehelai kertas ke tangan Sungmin.

 

Sungmin tercengang membaca deretan tulisan yang menjadi keinginan Ryeowook. Sesekali dia menatap Ryeowook tidak percaya, dan Ryeowook dia hanya tersenyum manis sambil menggendikan bahu.

13

 

“k-kau yakin Wookie? ini yang harus aku lakukan?” Sungmin menatap Ryeowook dan kertas itu bergantian.

 

“tentu saja Hyung. Aku sudah memikirkannya baik-baik”

 

“tappi… ini…”

 

Sungmin membaca dengan seksama apa saja keinginan Ryeowook itu. Salahnya sendiri tadi malam membuat sang eternal magnae kesal, dan inilah yang harus ia lakukan sekarang.

 

*Sungmin menyiapkan birthday cake sendiri

Iya, ini memang salahnya. Tapi, di toko kue juga sudah tersedia birthday cake, jadi Sungmin hanya perlu mengunjungi toko kue untuk membelinya. Hahhaa,Sungmin, kau cerdas.

 

*Melakukan cross dress…

Ini tugas yang mudah, ia bisa melakukan ini dengan baik. Ketika super show, dia tidak pernah gagal selama cross dress. Dan ini bukanlah sesuatu yang sulit.

 

*Bermanjaan dengan Ryeowook saat cross dress berlangsung…

Apa-apaan ini? Cckkk, Ryeowook, kau pikir… ah baiklah. Ini sangat mudah. Mereka bisa melakukan itu saat show. Benar kan??? Sungmin menarik sudut bibirnya membentuk seringaian.

 

*Selalu membuat Ryeowook bahagia…

Aah, ini, ini, ini mudah. Berikan saja film komedi setiap hari. Tentu saja Ryeowook akan tertawa bahagia. Hahaha.

BhkOO7fCMAAyjWr

*Kemanapun mereka pergi, Sungmin harus memegang tangan Ryeowook…

Tidak perlu dipikirkan. dibilang mudah, ini terlalu mudah Ryeowook, oh ayolah.

 

*Selama tiga jam sekali Sungmin harus menelpon Ryeowook…

Mwo??? Hmmh, akan Sungmin coba, semoga saja tidak lupa. Maklum laah, usianya sekarang sudah 30 tahun, jadi kadang ia melupakan sesuatu.

 

*Jalan-jalan bersama di sore hari (itupun jika ada free time)…

Sungmin mengangguk mengerti.

 

*Menonton film bersama..

Tidak perlu pergi ke bioskop, mereka bisa meminjam koleksi DVD Eunhyuk. Membayangkan hal itu membuat pipi Sungmin tampak merona merah. Dan Ryeowook mengernyitkan alisnya heran. Tahu kan apa saja koleksi DVD Eunhyuk? Tentu saja film-film dengan rating 17+++

 

*Mentraktir makan…

Iya, ini bukan ide yang buruk. Apalagi melihat bentuk badan Ryeowook yang sudah sangat kurus. Sungmin tersenyum jahil, dengan mentraktir makan, ia bisa membuat badan Ryeowook tampak seksi, seperti bentuk badannya. Haha.

 

*Sungmin harus menonton drama musikal Ryeowook…

“Yaak, ini tidak adil. Aku selalu menonton drama musikalmu, tapi kau tidak pernah menonton drama musikalku” Sungmin mempoutkan bibirnya.

 

“Mianhe, aku belum memiliki waktu” Ryeowook beralasan.

 

“hmmh, drama musikalnya Kyuhyun, kau bisa datang, tapi drama ku tidak” gumam Sungmin kesal.

 

*Melakukan hal yang menyenangkan di malam hari, sebanyak, sepuluh ronde…

“Y-yaaakkkk apa-apaan ini? Sepuluh ronde bagaimana bisa?” Sungmin menatap kaget Ryeowook yang sedang tersenyum simpul.

“W-Wookie, jebal, berikan aku keringanan. Kau tahu, baru dua ronde saja, aku sudah lemas apalagi sepuluh ronde?” Sungmin memelas.

BgMOhlaCEAEFW_y

“tidak bisa. Kalau hyung mau, Hyung bisa mencicilnya. Jadi setiap malam, kita lakukan dua ronde saja” Ryeowook menyarankan.

 

“aish, setiap malam? Tapi aku tidak punya kekuatan sebanyak itu. Kau tahu, aku semakin tua sekarang”

 

“dengar Hyung, nanti kan kau akan masuk wajib militer, jadi aku sedikit membantumu saja” Ryeowook beralasan.

 

“kau ini, di kamp militer, siapa yang akan melakukan hal ini? Aku tidak akan pernah mau melakukannya dengan orang lain” Sungmin mendelik pada Ryeowook.

 

“Hahaha… maka dari itu, selagi kita masih bersama, ayo kita habiskan waktu untuk berdua” Ryeowook mengedipkan sebelah matanya.

 

~o~

 

Keesokan harinya.

 

“Saengil Chukae Wookie-ku tercinta….” teriak Sungmin sambil masuk kedalam kamar Ryeowook.

 

“eurmmh…” Ryeowook menggeliat merasa terganggu dengan teriakan Sungmin barusan.

 

“Yaak… ayo bangun. Ini sudah siang” Sungmin mengguncangkan bahu Ryeowook.

 

“ada apa Hyung??? Nanti saja, aku mohon, aku sangat ngantuk” Ryeowook mencoba menyingkirkan tangan Sungmin yang berada di bahunya.

 

“dengar, kalau kau tidak bangun sekarang, maka jangan harap aku akan mengabulkan semua keinginanmu. Terserah kau saja, jika masih ingin tidur, aku akan pulang kerumah saja” ancam Sungmin yang sukses membuat Ryeowook terperanjat kaget.

 

“A-andwee… aku bangun Hyung… aku sudah bangun” kata Ryeowook sambil bangkit duduk.

 

“Naah, ini baru dongsaengku… ini… saengil chukae” kata Sungmin sambil mengangkat birthday cake ke hadapan Ryeowook. Tidak lupa ia menyalakan lilinnya terlebih dahulu.

“jangan lupa, make a wish… setelah kau meniup lilinnya, terserah padamu, kau mau kembali melanjutkan tidur, atau tidak” Sungmin tersenyum lebar.

BhZLo-ACAAA-_Jc

“Hyung, jebal. Haruskah sepagi ini? Aish…” Ryeowook memutar bola matanya kesal. Ia merasa terganggu dengan ulah Sungmin. Bagaimana bisa Sungmin membangunkannya hanya untuk meniup lilin ulang tahunnya saja. Bahkan tanggal ulang tahunnya sudah lewat beberapa jam yang lalu. Ini sangat keterlaluan.

 

“dengar, aku sudah membuat cake ini sejak pagi. Aish… cepat tiup lilinnya” perintah Sungmin. Dan tanpa menunggu lama, Ryeowook memejamkan mata, lalu meniup lilin yang berada di hadapannya itu hingga terpadam.

 

“Haah, bagus. Setidaknya, satu tugasku selesai” kata Sungmin sambil mencontreng salah satu daftar di kertas yang diberikan Ryeowook semalam.

 

“kau kembalilah tidur Wookie. Kau pasti sangat lelah” angguk Sungmin sambil berlalu dari pandangan Ryeowook.

 

Ryeowook menatap cake yang berada di meja samping tempat tidurnya dengan perasaan kesal. Sungmin tidak mengerti, bukan seperti ini caranya ingin merayakan ulang tahunnya kali ini.

 

~o~

 

Dddrrrttt… handphone Ryeowook bergetar, menandakan ada telpon yang masuk. Ryeowook segera meraih handphonenya itu. Tanpa melihat id pemanggilnya terlebih dulu, Ryeowook segera menerima panggilan itu.

 

“yeobseyo…”

 

Wookie….” suara dengan nada yang ceria terdengar dari seberang telpon.

 

“Sungmin Hyung? ada apa?” Ryeowook mengernyitkan alisnya menyadari bahwa yang menelponnya adalah Sungmin.

 

Yaak, mengapa kau bertanya seperti itu? Bukankah kau yang memintaku menelponmu 3 jam sekali” Ryeowook tersenyum simpul membayangkan bahwa saat ini Sungmin sedang mempoutkan bibirnya kesal.

 

“arra, aku hanya bercanda Hyung. Kau sedang dimana? Apakah kau akan pulang ke dorm?” tanya Ryeowook.

 

eum… aku sedang dirumah eomma. Mungkin malam ini aku tidak akan pulang

 

“Sungmin Hyung, pulanglah ke dorm, aku kesepian disini. Aish…”

 

wae? member yang lain kemana?

 

“mollayo… hah, aku sangat bosan Hyung…”

 

kau sedang apa sekarang?

 

“aku sedang membaca skrip untuk siaran nanti”

 

haah, percuma kalau aku pulang kesana. kau tidak ada di dorm. Baiklah, aku masih ada urusan dengan eomma. Aku akan menghubungimu tiga jam lagi. oke?

 

“eumh, baiklah. Katakan pada omonim, aku merindukan masakannya”

 

tentu saja Wookie… jaga dirimu ne

 

“ne…”

jk_by_kayceeanor-d6eqymb

Ryeowook tersenyum. Entahlah, rasanya mendapat telpon dari Sungmin itu, seperti mendapatkan satu hadiah yang membuat hatinya bahagia. Tiga jam lagi, selesai siaran Sungmin akan menelponnya lagi. sebaiknya dirinya fokus pada Sukira saja dulu.

 

~o~
“Wookie…” teriak Sungmin ceria. Ryeowook yang sedang berada di dapur hanya melongokkan kepala melihat Sungmin yang menghampiri dirinya.

 

“ada apa Hyung?” tanya Ryeowook sambil tangannya masih mengiris wortel.

 

“lihat, aku punya film yang bagus. Nanti malam kita nonton bareng. Bagaimana?” beberapa keping dvd film Sungmin perlihatkan pada Ryeowook.

 

“oke, tentu saja” angguk Ryeowook ceria. Dalam pikirannya, mungkin akan sangat menyenangkan bisa menonton film berdua saja dengan Sungmin..

 

“kalau begitu, nanti malam aku kembali ke dorm. Hari ini aku masih ada jadwal, dan, jangan siapkan makanan, aku akan membawanya nanti” ingat Sungmin.

 

“Ne, Hyung…” angguk Ryeowook.

“Gomawoo” Ryeowook setengah berteriak saat melihat Sungmin sudah membuka pintu dorm.

 

 

Suara dari film yang sedang diputar terdengar berisik memenuhi ruangan apartemen. Makananpun cukup banyak tersedia di meja, sesuai dengan perkataan Sungmin tadi. Tapi, ini tidak seperti yang Ryeowook bayangkan. Dia ingin menonton berdua saja dengan Sungmin. Tapi apa mau dikata, kebetulan Henry dan ZhouMi berkunjung ke dorm mereka. Sehingga mau tidak mau mereka menonton film bersama-sama. Ryeowook menyandarkan kepalanya di lengan Sungmin sambil mempoutkan bibirnya. Ia merasa kesal, mengapa Sungmin tidak mengerti keinginannya. Dan melihat kepala Ryeowook yang bersandar di lengannya, Sungmin hanya bisa menyeringai senang. Dia pikir Ryeowook sudah puas dengan apa yang telah ia lakukan.

 

~o~
“Hey Wookie, gwenchanha?” Sungmin mendekati Ryeowook yang sedang – walaupun matanya menatap TV, tapi ia tahu, Ryeowook sedang tidak menonton acara yang sedang ditayangkan.

“kenapa kau terlihat sangat murung? Ada apa?” tanya Sungmin sambil merangkul bahu Ryeowook.

“aniyo Hyung. Aku baik-baik saja…” Ryeowook menatap sekilas Hyung yang duduk di sampingnya ini.

“apa kau ada masalah? Ceritakan padaku hmmh” kata Sungmin pelan sambil mendekatkan kepalanya untuk bersandar di bahu Ryeowook.

 

“tidak ada” geleng Ryeowook pelan.

 

“lalu…” Sungmin menatap mata Ryeowook dari samping.

 

“ayolah, apa kau lupa pada daftar hadiah yang kuinginkan?” Ryeowook sudah tidak tahan, dia memutar tubuhnya, agar berhadapan dengan Sungmin.

 

“tentu saja aku tidak lupa. Bagaimana mungkin aku bisa lupa” gumam Sungmin di akhir kalimatnya.

 

“kalau begitu, kapan aku bisa mendapatkannya lagi?” Ryeowook tidak sabar.

 

“apa hari ini kau ada waktu?”

 

“hmmh” angguk Ryeowook. “aku hanya memiliki satu jadwal saja, Sukira nanti malam”

 

“kalau begitu bagus. Ayo kita pergi” kata Sungmin sambil beranjak dari duduknya.

 

“t-tapi kita mau kemana?”

 

“ayolah, aku akan mengajakmu ke tempat yang bisa membuatmu tersenyum” Sungmin mengedipkan sebelah matanya.

 

~o~

 

Ryeowook mempoutkan bibirnya tinggi. Iya, menurut rencana Sungmin, ia akan mengajak Ryeowook ke pantai. Tapi apa boleh buat, saat ini Ryeowook hanya duduk di jok mobilnya saja. Perjalanan dari Seoul memang sangat lancar, tapi entah mengapa tiba di jalan yang sepi dan jauh dari keramaian ini, mobil Sungmin tiba-tiba mati. Terdiam dan tidak menyala. Dan lucunya, Sungmin baru menyadari, bahwa mobilnya belum terisi bensin sama sekali sejak kemarin.

 

“mianhe… aku sudah mencoba menelpon Sungjin, tapi sama sekali tidak ada signal di tempat ini. Bagaimana Wookie?” Sungmin terlihat gusar.

 

Walaupun kesal, tapi Ryeowook merasa kasihan pada Sungmin. Tanpa menunggu lama, iapun keluar dari dalam mobil.

 

“mobil ini tahu tempat yang bagus untuk mogok, Hyung” Ryeowook tersenyum simpul.

 

“apa maksudmu?”

 

“lihat, pemandangan disini sangat indah. Dan aku tidak keberatan walaupun kita hanya diam ditempat ini saja” mendengar penuturan Ryeowook, Sungmin-pun seolah baru menyadari dimana mereka berada saat ini.

 

Karena mereka berada di tempat yang tinggi, sehingga dari tempat ini dapat terlihat pantai yang indah di kejauhan. Kabut tipis terlihat menutupi horizon, karena cuaca yang memang tidak terlalu cerah. Bahkan udara pun terasa dingin. Gulungan ombak yang berkejaran di pantai, hanya terlihat seperti awan putih yang tebal dari arah mereka saat ini.

 

“lihat, indah kan?” Ryeowook menunjuk kaki langit yang tertutupi kabut tadi.

 

“eumh, aku baru menyadarinya sekarang” angguk Sungmin sambil ikut menatap apa yang di tunjuk Ryeowook tadi.

 

Akhirnya, walaupun tidak jadi bermain ombak di pantai, mereka hanya menghabiskan waktu di atas bukit itu. Menatap hamparan luas berwarna biru di kejauhan sana. Sungmin dan Ryeowook duduk diatas kap mobil sambil memakan camilan yang mereka bawa dari apartemen. Ryeowook menyandarkan kepalanya pada lengan Sungmin. Dan tangan mereka saling berkait satu sama lain. Sungguh, walaupun cara mereka menghabiskan waktu hanya sesederhana ini, tapi hal ini memberikan kebahagiaan tersendiri di hati Ryeowook. Sambil bersantai, mereka membicarakan berbagai hal tentang jadwal mereka masing-masing. Rasanya kelelahan yang dirasakan oleh hati Ryeowook selama ini jadi hilang, setelah membicarakan semuanya pada Sungmin.

 

Tanpa mereka sadari, hari semakin sore. Terlihat dari matahari yang mulai menuju arah barat.

 

“bagaimana kalau tidak ada orang yang bisa menemukan kita disini?” tanya Sungmin setelah beberapa saat mereka terdiam.

 

“aku tidak masalah, asalkan masih bersama dengan Sungmin Hyung…” Ryeowook tersenyum kecil.

 

“kau ini….” kata Sungmin sambil mencubit hidung Ryeowook gemas.

 

“aah, Hyung… appo…” Ryeowook mengusap-usap hidungnya.

 

“bagaimana? Apakah sekarang kau sudah senang?” tanya Sungmin sambil memainkan rambut Ryeowook.

 

“eumh” Ryeowook mengangguk.

 

“lalu bagaimana kau siaran nanti?” Sungmin seolah baru ingat pada jadwal Ryeowook, bukannya menjawab, Ryeowook hanya menggendikkan bahu.

 

“oh iya, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke bawah? Sepertinya, disana tidak terlalu buruk juga” tawar Sungmin sambil mengulurkan tangannya.

Tanpa banyak tanya, Ryeowook meraih tangan Sungmin lalu mereka mulai berjalan-jalan disana. Suasananya sangat sepi, tapi memberikan rasa damai dihati keduanya. Selama mereka berjalan, tidak pernah sekalipun Sungmin melepaskan pegangan tangannya di tangan Ryeowook. Bagi Sungmin, Ryeowook adalah orang yang harus ia lindungi. Bukan berarti dia menganggap Ryeowook lemah, tapi selama ia bersama dengan Ryeowook, maka sudah tugasnya lah memastikan bahwa Ryeowook akan baik-baik saja.

 

Hampir 20 menit, akhirnya mereka kembali ke tempat awal tadi. Dan Ryeowook hanya tercengang melihat pemadangan di hadapannya.

 

“Sungjin-ah, bagaimana kau bisa kemari?” tanya Ryeowook heran.

 

“tadi Sungmin Hyung menelponku, katanya kalian kehabisan bensin, makanya aku datang kemari” terang Sungjin.

 

“t-tapi, Sungmin Hyung, bukannya, tadi tidak ada signal disini?” Ryeowook menatap Sungmin tidak mengerti. Sementara Sungmin hanya tersenyum penuh makna pada Ryeowook, lalu melepaskan pegangan tangannya.

 

“gomawo Sungjin-ah” kata Sungmin sambil menepuk bahu adiknya itu.

 

~o~

 

“Cross dress lagi?” Sungmin menatap horror pada kertas di hadapannya.

“Hyung…” Sungmin merengek pada manager mereka.

 

“sudahlah Hyung, lagi pula, kau kan tidak pernah gagal selama cross dress. Lagi pula fans menyukainya” Kyuhyun hanya tersenyum jahil melihat Hyung kesayangannya merengek seperti itu.

 

“tapi kenapa harus aku? Hey Kyu, kau juga kan bisa terlihat cantik ketika cross dress” protes Sungmin.

 

“ayolah Hyung, Kyuhyun tidak memiliki bentuk badan yang indah…” kata Eunhyuk sambil tangannya membentuk sebuah gitar mengisyaratkan tubuh wanita yang seksi.

 

“aish…” Sungmin tidak bisa menolak lagi. Walaupun tidak mau, tapi demi fans, ia akan melakukannya. Lalu, ingatannya terjatuh pada permintaan Ryeowook, dan dia hanya menyeringai jahil.

 

“lihat, Hyung kita yang baik bisa menjadi evil juga sepertiku” kata Kyuhyun bangga saat ia melihat seringaian Sungmin.

 

“diam kau evil maknae, kau yang sudah menularkan ke-evilanmu padaku” kata Sungmin sambil berlalu meninggalkan para member yang masih berada di ruang latihan.

 

~o~

 

Suara teriakan fans terdengar histeris saat musik “alone” terdengar. Lagu yang menjadi pengiring ketika Sungmin, Kangin, Siwon dan Ryeowook cross dress. Kecantikan mereka saat berperan sebagai wanita bahkan mengalahkan kecantikan wanita yang sebenarnya. Yaa, kecuali untuk Siwon. Jujur, Siwon terlalu manly untuk berperan sebagai seorang wanita.

39.

Sungmin mendekati Ryeowook yang terlihat malu-malu. Dalam hatinya, Sungmin berkata mengapa Ryeowook bisa terlihat sangat cantik seperti ini. Seandainya ia seorang wanita asli, maka kemungkinan yang akan terjadi, Sungmin akan membawanya kabur untuk dinikahi pada saat itu juga. Dengan tatapannya yang nakal, ia memeluk Ryeowook. Ryeowook hanya bisa menahan nafasnya. Tidak Ryeowook… tahan, dia adalah Sungmin Hyung… tapi… dia terlihat sangat seksi… apalagi saat ia melihat dada Sungmin yang terlihat “berisi”. Ryeowook berusaha sekuat tenaga mengindari tatapan mata Sungmin yang menurutnya terlalu menusuk kedalam hatinya. Ini memang berlebihan, tapi, itulah kenyataan yang Ryeowook rasakan. Bagaimana tangan halus Sungmin yang berada di pipinya, memintanya untuk menatap wajah Sungmin. Dan jangan lupakan, kaki Sungmin yang melingkar di panggulnya. Oh Tuhan, bisakah ia pingsan saja.

BiQdKLJCMAASxW7

“wae?” bisik Sungmin tepat di telinga Ryeowook.

 

“H-Hyung… aku malu…” kata Ryeowook sambil menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona merah. Ia menyesal mengapa meminta Sungmin memanjakannya ketika mereka cross dress. Sungguh, jantung Ryeowook masih berdetak tidak beraturan.

 

~o~

 

Braaakk

 

“aaah”

 

Pintu kamar Kyuhyun terbuka dengan keras. Dan Sungmin berteriak kaget saat seseorang masuk kedalam kamarnya. Ia yang sedang mengenakan celananya yang baru sebatas lututnya, segera menjatuhkan dirinya di ranjang.

 

“yaak… Wookie, kenapa kau tidak mengetuk pintu dulu hah?” Sungmin menekan dadanya yang berdebar kaget.

 

“salah sendiri kenapa Hyung tidak menguncinya” bela Ryeowook.

 

“ini kan kamar Kyuhyun, kau sudah biasa masuk seperti ini?” Sungmin melotot kesal.

 

“Hyung sedang apa? kenapa memakai selimut seperti itu?”

 

Sungmin menatap selimut yang menutupi tubuh bagian bawahnya. Secara reflek, tadi Sungmin menarik selimut itu untuk menutupi pinggulnya itu.

 

“aah, tadi aku kaget, kupikir siapa yang masuk, makanya aku langsung memakai selimut ini” kata Sungmin sambil nyengir.

 

Sungmin bangkit dari tempat tidurnya lalu menyelesaikan memakai celana panjangnya yang tadi baru ia kenakan hingga lutut. Ryeowook memalingkan wajahnya yang tiba-tiba merasa panas. Aneh memang, padahal mereka sudah terbiasa seperti itu. Tapi, ketika melihat Sungmin, dan keadaan mereka berada di dalam kamar dan hanya berdua, maka perasaannya menjadi canggung.

 

“Oh iya Wookie, ada apa kau kemari?” tanya Sungmin sambil mengenakan jaketnya.

 

“aku… eum… aku…”

 

“iya ada apa?” Sungmin menyisir rambutnya sambil menatap cermin di depannya.

 

“aku ingin meminta jatahku” kata Ryeowook tiba-tiba.

 

“jatah? Jatah apa?” Sungmin melirik Ryeowook.

 

“itu… hyung kau lupa pada sepuluh ronde mu itu ya?” Ryeowook merasa konyol harus menanyakan ini. Jangan ditanya, bagaimana panasnya wajahnya saat ini.

 

“ooh itu… tapi… aah, jangan malam ini ne. jebal…” Sungmin meringis

 

“kenapa? Hyung kan sudah berjanji akan memberikanku yaa walaupun hanya dua ronde saja setiap malam” Ryeowook mempoutkan bibirnya.

 

“iya, tapi malam ini aku sangat lelah. Jadwalku sejak tadi siang sangat padat” elak Sungmin.

 

“aku tidak mau tahu, berikan aku dua ronde saja… pleaseee” Ryeowook memohon dengan puppy eyes andalannya.

 

“haah, baiklah. Dengar, kau tidak boleh merayu hyungdeul yang lain seperti itu. Hanya perlihatkan mata seperti itu padaku saja. arra??” pinta Sungmin.

 

“arraseo Hyung…” angguk Ryeowook semangat.

 

Akhirnya, Sungmin kembali membuka jaket yang telah dikenakannya tadi. Walaupun lelah, tapi ia tidak bisa melupakan kewajibannya pada Ryeowook.

 

“kemarilah” ajak Sungmin sambil mengedipkan mata.

 

“kau yang terbaik Hyung…” kata Ryeowook pelan sambil melingkarkan tangan kanannya di bahu Sungmin. Dan jangan lupa tangan kirinya mengelus pipi Sungmin.

 

“kau siap?” tanya Sungmin yang dibalas anggukan semangat dari Ryeowook.

 

“baiklah… kita mulai…”

 

Sungmin menaruh tangan kanannya di bawah lutut Ryeowook, sedangkan tangan kirinya berada di punggung Ryeowook. dan dengan sepenuh tenaganya, ia mengangkat tubuh Ryeowook, lalu menurunkannya lagi. Angkat lagi, turun lagi. Sebelumnya, Sungmin menduga, Ryeowook tidak akan terlalu berat, tapi baru saja satu ronde ia sudah terengah-engah.

tumblr_mis8fhF7to1qbst9go1_1280

“ayolah Hyung… yang semangat” kata Ryeowook sambil kembali mengelus pipi Sungmin.

 

“Haah… Wookie… kau… ter..nyata sangat … berat… hah… huh…” Sungmin terengah-engah.

 

“jangan lupa ya, kau masih berhutang delapan ronde padaku” Ryeowook mengingatkan sambil mengelap keringat yang menetes di dahi Sungmin.

 

“Kau… hah… keterlaluan padaku… huh…”

tumblr_miqh9wa7b91qbst9go1_1280

 

~o~

 

Hyungdeul, jangan lupa hari ini adalah drama musikal terakhirku. Kalian harus datang. Kalau tidak datang, aku akan berhenti memasak untuk kalian. Huahaha..

 

Itulah pesan yang ditulis Ryeowook di chatroom bersama dengan member SJ lainnya. Namun sayang sekali tidak ada satu memberpun yang membalas pesannya itu.

 

Ryeowook sudah tahu pasti bagaimana sibuknya member Super Junior, jadi ia tidak akan menaruh banyak harapan. Tapi semoga saja, dari sekian banyak kesibukan mereka, mereka bisa membalas pesannya itu..

 

~o~

 

Gemuruh tepuk tangan terdengar mengiringi penampilan Ryeowook. Perlahan tirai menutupi panggung yang menandakan bahwa penampilan drama musikal kali ini telah selesai. Satu persatu penonton mulai meninggalkan tempat duduknya masing-masing. Diantara mereka ada salah satu yang mengenakan kacamata hitam. Ia segera berdiri dan mendatangi ke area back stage.

 

Setelah tiba di ruangan para cast, ia tersenyum melihat seseorang yang sangat ia kenal. Beberapa orang yang melihatnya tersenyum sambil menganggukkan kepala.

 

“Wookie…” panggilnya membuat Ryeowook tersentak kaget. Pasalnya, ketika ia berada di stage tadi, ia tidak melihat kehadiran member SJ. Dan kali ini ia malah melihat Sungmin yang memasang senyum termanis padanya. Dan jangan lupakan penampilannya yang sangat cool dengan kacamata hitam di wajahnya, membuat Ryeowook harus menetralkan nafasnya.

21

“Hyung, kau datang bersama siapa?” tanya Ryeowook bersemangat.

 

“aku datang sendiri. Sepertinya member yang lain sibuk”

 

“iya, aku juga sangat tahu bagaimana sibuknya hyungdeul yang lain” Ryeowook sedikit murung karena kecewa.

 

“sudahlah, dari pada sedih seperti itu, segeralah bersiap-siap, kita pulang bersama” ajak Sungmin.

 

“benarkah? Kau membawa mobilmu sendiri?”

 

“iya… jadi, palli” Sungmin mengacak rambut Ryeowook dengan sayang.

 

“tappi…”

 

“tapi apa?”

 

“aku ingin membeli es krim terlebih dulu, dan juga makan. Aku sangat lapar Hyung…” kata Ryeowook memelas sambil memegangi perutnya.

 

“hahaha, baiklah… kita pulang saja, aku sudah menyiapkan makanan yang spesial untukmu. ayo sekarang siap-siap. Aku akan menunggumu di mobil. Ok”

 

“ne, tunggulah!”

 

Sungmin meninggalkan ruang cast. Ia segera memasuki mobilnya yang berada di area parkir. Hampir lima belas menit ia menunggu Ryeowook disana. Memang agak kesal, tapi untuk Ryeowook, semuanya tidak menjadi masalah.

 

Dari jauh, terlihat Ryeowook mendekati mobilnya, dan Sungmin membukakan pintu dari dalam.

 

“gomawo Hyung…” Ryeowook duduk di kursi depan, dan memasang seatbelt nya.

“memangnya apa yang sudah Hyung masak untukku?”

 

“kau lihatlah nanti di dorm, aku jamin perutmu yang lapar ini, akan segera penuh dengan makanan”

 

“jeongmal?? Kalau begitu, ayo cepat pulang. Aku sudah tidak sabar. Hahaha”

 

“baiklah. Makanan enak, kami datang” canda Sungmin yang membuat Ryeowook tertawa.

 

Selama di perjalanan, Ryeowook menceritakan tentang drama musikalnya. Sungmin menyimak dengan antusias. Baginya, mendengar suara Ryeowook yang ceria seperti ini bisa membuat moodnya membaik. Dan sesekali ia memberikan komentar pada penampilan Ryeowook tadi.

 

Mobil yang mereka kendarai telah tiba di apartemen. Dan dengan semangat, Ryeowook mengajak Sungmin segera turun untuk menuju ruangan apartemen mereka.

 

“sabarlah Wookie, makanannya tidak akan habis” Sungmin menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ryeowook yang sangat menggemaskan. Beruntung, lift dalam keadaan kosong, sehingga mereka bisa segera tiba ke apartement.

 

Ting

 

Pintu lift terbuka. Sungmin dan Ryeowook keluar dari dalam lift, dan Sungmin segera menekan password pintu.

 

“kau jangan kaget, ne!” ingat Sungmin sebelum membuka pintu, yang dibalas anggukan oleh Ryeowook.

 

“ta-da….” Sungmin memperlihatkan deretan makanan yang tertata rapi di meja. Beruntung Shindong dan member lain tidak ada di apartemen, jadi makanan itu bisa aman terjaga. Haha.

mw

“hyung… kau tidak salah?” Ryeowook menatap tidak percaya pada deretan makanan itu.

 

“tentu saja tidak. Tunggu apa lagi? kaja, kita makan!” ajak Sungmin sambil membawa piring dan sumpit lalu menyerahkan pada Ryeowook.

 

“gomawo Sungminie Hyung…” Ryeowook memeluk Sungmin karena merasa sangat bahagia. Tidak lupa, ia mencium pipi Sungmin sebagai ucapan terima kasih.

 

“gomawo telah mengabulkan semua keinginanku”

 

“apakah sekarang kau senang?” tanya Sungmin sambil menikmati pelukan Ryeowook di lengannya.

 

“hmmh” angguk Ryeowook dengan mata berbinar.

 

“syukurlah kalau begitu” kata Sungmin sambil menyeringai.

 

“Hyung, kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?” tanya Ryeowook sambil menatap heran Sungmin, yang ia tahu, jika hyung-nya sudah menyeringai, pertanda ada hal buruk akan menimpanya.

 

“eummh tentu saja” angguk Sungmin menggoda Ryeowook.

 

“apa?”

 

“aku akan membuat daftar keinginan yang lebih panjang lagi saat aku ulang tahun nanti. dan kau harus mengabulkan setiap keinginanku itu. Bagaimana?” Sungmin menaik turunkan alisnya penuh kemenangan.

 

“yaaak, Sungmin Hyung…” Ryeowook melepaskan pelukannya. Lalu memukul lengan Sungmin dengan sumpit yang ia pegang tadi.

“aku pikir kau tulus melakukan ini… kalau tahu seperti itu, aku tidak akan membuat daftar itu… aah… Sungmin Hyung… jahat…” kata Ryeowook sambil tetap memukuli lengan Sungmin dengan sumpit.

 

“aishh.. Wookie, sakit… baiklah, aku hanya bercanda… bukannya kau lapar, sebaiknya kita makan sekarang saja” kata Sungmin memelas sambil mengusap lengannya yang lumayan terasa sakit.

 

“baiklah” Ryeowook mempoutkan bibirnya sambil duduk di kursi. Ia memilih makanan mana yang terlebih dulu harus ia makan.

 

“makan saja yang lebih dekat denganmu dulu Wookie, kenapa harus bingung?” Sungmin menggelengkan kepalanya pelan.

 

“benar juga Hyung” Ryeowook tersenyum sambil memakan sepotong bulgogi.

“eumh rasanya enak hyung. ini cobalah!” Ryeowook mengambil sepotong lalu menyuapkannya pada Sungmin. Dan setelah mencicipi rasanya, Sungmin mengangguk setuju mengatakan bahwa bulgogi ini adalah bulgogi terenak yang pernah ia makan. Entah enak dari rasanya, entah enak karena Ryeowook yang menyuapinya. Yang jelas, saat ini Sungmin merasa tenang, karena semua keinginan Ryeowook telah menjadi kenyataan.

 

THE END

 

*sebenarnya aku bingung bikin endingnya. Haha.

Dan, aah, mianhe my bebeb wook tercinta, aku telat banget bikin ini ff. Maklumlaaah, orang sibuk. *toeng..

Saengil chukae Kim Ryeowook. Semoga kau selalu bahagia, dan semua yang kau inginkan menjadi kenyataan. Jangan lupa, tetap perjuangkan cinta kita hingga akhir waktu. *DUAGH. Hihihi..

 

Oke, deh, ada yang mau ngasih komen nggak??? Wkwkwk.

 
5 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2014 in MinWook Series

 

Tag: , ,

Moonlight Melody Chap 12

moonlight melody yuhuu

Moonlight Melody

Cast : Ryeowook, Sungmin, Kyuhyun

Rated : T

Genre : Romance, Angst, Drama, Action, (GS)

Disclaimer : ff ini hasil dari imajinasi saya, semuanya hanya fiktif dan tidak ada hubungannya dengan dunia nyata.

*selamat membaca*

~o~

 

 

Gubernur Yun telah mempersiapkan rencana yang sangat matang untuk menghancurkan Bangsawan Cho. Sebenarnya, bukan hanya Bangsawan Cho yang menjadi sasaran kemarahannya, tapi seluruh keluarga Walikota Cho harus dapat ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Sesekali tangannya mengepal sambil giginya saling bergemeretak.

 

Beberapa hari terakhir ini kehidupan damainya sempat terganggu. Petugas yang berwenang dalam urusan keuangan kerajaan telah menerima sebuah bukti bahwa dirinya telah memungut pajak yang sangat besar dari para petani. Selain itu kasus korupsi yang pernah terlupakan kini terkuak kembali. Tentu saja ia tahu siapa yang telah melaporkan dirinya pada petugas keuangan kerajaan, Bangsawan Cho. Semakin ia mengingat Bangsawan Cho, maka kemarahannya semakin memuncak. Pasalnya, hanya pemuda itu yang berani melakukan hal ini padanya.

 

Selain mengingat bagaimana kekalahan telaknya untuk mendapatkan Putri Kim, kini Gubernur Yun harus merasakan betapa menjengkelkannya ketika pagi-pagi buta ia harus menerima kedatangan petugas keuangan kerajaan untuk memeriksa aset yang ia miliki saat ini. Oleh sebab itulah ia merancang satu jebakan untuk mencelakai Bangsawan Cho di Guangju. Setelah Bangsawan Cho mati, maka ia akan dengan mudah melenyapkan satu per satu anggota keluarga Walikota Cho termasuk Putri Kim. Tapi alangkah lebih menyenangkan jika ia membiarkan Bangsawan Cho hidup, dan menyaksikan bagaimana orang-orang yang ia cintai mati di tangan Gubernur Yun. Itu akan membuatnya impas atas masalah yang menimpa dirinya. Karena kegagalannya untuk menikahi Putri Kim, maka satu persatu masalah mulai muncul dalam kehidupan Gubernur Yun.

 

~o~

 

Rombongan Putri Kim kini mulai memasuki pertengahan hutan pinus. Udara sejuk terasa di kulit wajah Putri Kim. Sejenak ia menyibak tirai yang ada di sebelah kirinya. Yang ia dapati hanyalah wajah tenang Lee yang tengah menunggangi kuda di sebelah tandu Putri Kim. Ia menatapnya lembut sambil tersenyum.

 

“apakah ada yang sesuatu yang anda inginkan Putri?” tanya Lee sopan.

 

Putri Kim hanya menggeleng pelan. Ia balas tersenyum pada Lee setelah itu ia mengaitkan tirai agar ia bisa melihat indahnya hutan pinus yang tengah mereka lewati. Udara yang segar kini mulai memenuhi paru-paru Putri Kim. Gadis itu tidak henti menatapi pohon pinus yang tegak berdiri. Dedaunannya yang terlihat lembut dari kejauhan seolah saling menutupi satu sama lainnya. Pemandangan yang sangat kontras dan menimbulkan pemandangan yang agak mengerikan saat warna dedaunan itu berpadu dengan warna langit yang mendung kelabu.

 

“apakah perjalanan kita masih lama?” tanya Putri Kim pelan.

 

“sebentar lagi. Setelah hutan pinus ini habis, maka kita akan segera tiba di Istana Timur. Apakah anda merasa lelah? Haruskah kita beristirahat dulu?”

 

“tidak… aku hanya merasa sedikit berbeda. kau tahu kan, sudah berbulan-bulan lamanya aku tidak pulang. Apakah tempat itu masih sama ataukah sudah berubah” kata Putri Kim sambil menerawang.

 

“anda tidak perlu mengkhawatirkan tentang semua itu. Aku yakin, keadaan Istana Timur akan selalu sama dan tetap sama seperti saat anda terakhir kali berada disana” kata Lee sambil tersenyum.

 

“kau salah…” Putri Kim menggigit bibirnya pelan. Lee hanya menolehkan kepala sambil mengerutkan alis.

“… tidak ada Ayah disana… itu yang membuatnya berbeda…” gumam Putri Kim.

 

Lee tidak berani berkata lagi. Saat ini lebih baik membiarkan Putri Kim dengan pikirannya sendiri. Lee juga bisa mengerti apa yang dirasakan oleh Putri Kim karena iapun merasaka sesuatu yang sama. Kehilangan orang yang sangat ia sayangi dan sangat ia hormati. Tuan Kim.

 

 

Seperti yang dikatakan oleh Lee tadi. Setelah hutan pinus itu habis, maka mereka menyusuri jalan menuju Istana Timur. Perasaan Putri Kim semakin tidak karuan. Bahagia bercampur sedih menjadi satu. Bahagia karena ia bisa melihat rumahnya lagi, dan sedih karena kini yang ada disana hanyalah kenangannya bersama dengan ayahnya tercinta. Seorang ayah yang telah mempercayakan dirinya pada Lee dan juga Bangsawan Cho.

 

Tandu mulai berhenti, lalu Lee membuka tirai yang ada di hadapan Putri Kim.

 

“kita telah tiba… Selamat datang di rumah” sambut Lee sambil menjulurkan tangannya membantu Putri Kim untuk keluar dari dalam tandu.

 

Dari dalam, Putri Kim hanya tertuju pada ruangan yang sangat ia rindukan. Ruangan dimana ayahnya sering menghabiskan waktunya untuk bekerja dan sesekali bercanda dengan Putri Kim. Perlahan ia menerima uluran tangan Lee, dan ia mulai keluar dari tandu. Ketika kakinya mulai menyentuh tanah, semilir angin menerpa wajah dan rambutnya, seolah memberinya ucapan selamat datang. Ia memandang berkeliling dan yang nampak disana adalah deretan para pelayan yang menyambutnya dengan penuh senyum di wajah mereka. Seseorang dari mereka mulai mendekat pada Putri Kim dan ia membungkuk memberi hormat.

 

“Selamat datang Putri… bagaimana kabar anda?”

 

“Hyosun? Kau… kau masih berada disini?” Putri Kim tidak percaya ia masih bisa melihat pelayan pribadinya masih berada di Istana Timur.

 

“tentu saja Putri. Saya tidak akan pergi kemana-mana jika anda tidak menyuruh saya pergi” Putri Kim tampak terharu mendengar ucapan Hyosun. Ia tidak tahu bahwa pelayannya memiliki loyalitas yang tinggi baik padanya maupun pada Istana Timur.

 

“terima kasih banyak Hyosun-ah…”

 

“apakah anda tahu, Istana ini jadi terasa sangat sepi. Setelah anda pergi tidak ada lagi suara ceria yang selalu menghangatkan suasana di Istana Timur ini. Tidak ada lagi yang memeriksa bunga di taman istana, tidak ada lagi yang meminta makanan untuk disiapkan, rasanya tempat ini menjadi kuburan yang sepi. Tapi sekarang, kehangatan dari tempat ini telah kembali” Hyosun membungkuk dan bibirnya tidak lepas dari senyuman yang sejak tadi berada di wajahnya.

 

“aku sangat senang mendengarnya, Hyosun-ah… eumm… bagaimana jika kau menemaniku mengelilingi Istana Timur? Aku sangat merindukan rumahku ini” ajak Putri Kim dengan mata berbinar.

 

“Tappi…” Hyosun tampak ragu, lalu melirik Lee yang berdiri dibelakang Putri Kim.

 

“Putri, anda masih lelah, apakah tidak sebaiknya anda beristirahat dulu?” saran Lee pelan.

 

“aku tidak lelah Lee. Sebaiknya kau mengajak mereka beristirahat dan meminta pelayan untuk menyediakan makanan” kata Putri Kim sambil melirik para pelayan yang berjejer rapi.

 

“tapi, kesehatan anda yang lebih utama… bagaimana nanti jika anda sakit?”

 

“mana mungkin kau memikirkan kesehatanku, sementara kau mengabaikan para pengawal yang telah lelah selama perjalanan sejak pagi? … aku tidak ingin mendengar apapun lagi, sekarang kalian beristirahatlah dulu. kumpulkan kembali energi kalian” kata Putri Kim sambil menatapi para pengawal yang ada disamping tandu-nya. Lee tidak bisa lagi menolak, ia hanya menganggukan kepalanya pelan.

 

“ayo Hyosun, temani aku sekarang” ajak Putri Kim sambil beranjak dari pelataran Istana Timur.

 

~o~

 

Putri Kim mendatangi satu per satu ruangan yang ada di Istana Timur. Hyosun dengan setia mengikuti kemanapun Putri Kim pergi. Saat Putri Kim memasuki kamar pribadinya, matanya menyusuri setiap sudut ruangan. Keadaannya masih tetap sama, seperti ketika ia terakhir kali berada disana. Ketika ia hendak menatap jendela, tanpa sengaja lirikannya jatuh pada meja yang berada disamping lemari kecil. Tampak bunga yang telah mengering masih berada di dalam vas. Hati Putri Kim terenyuh. Perlahan ia menghampiri bunga kering itu lalu menyentuhnya perlahan. Bayangan pada saat Bangsawan Cho memberikannya seikat bunga itu kembali terbayang dalam pikirannya. Jantungya kembali berdetak tidak karuan saat ia membawa bunga kering itu kedalam pelukannya.

 

“Hyosun-ah… apakah kau yang mengurus kamarku selama aku tidak ada?” tanya Putri Kim sambil melirik Hyosun yang kini telah duduk disamping Putri Kim.

 

“benar, Putri. Sebelum hari dimana anda meninggalkan Istana Timur, Lee telah berpesan pada saya agar menjaga kamar ini agar tetap sama seperti saat terakhir kali anda menggunakannya” terang Hyosun.

 

Mendengar bahwa Lee yang mengusulkan semua ini, membuat Putri Kim terharu. Betapa lelaki itu telah merencanakan semuanya dengan rapi sehingga ia tidak menyadari apapun. Matanya berkaca-kaca jika ia teringat kejadian pahit dan mengerikan yang pernah ia alami di rumah ini. Putri Kim bangkit, dan Hyosun mengikutinya. Mereka berjalan menyusuri selasar depan, hingga mereka tiba di tempat yang sangat ingin Putri Kim kunjungi. Kamar Tuan Kim.

 

“kau tidak perlu masuk Hyosun, aku ingin sendirian. Bisa kan?” tanya Putri Kim setengah memohon.

 

“baiklah Putri, silahkan” angguk Hyosun.

 

Deritan pelan terdengar saat putri Kim membuka pintu kamar. Aroma lavender tercium melalui hidungnya. Putri Kim hanya tersenyum samar sambil tangannya menutup pintu kamar. Kakinya mulai melangkah menuju meja kecil. Dulu, biasanya ayahnya akan duduk dibalik meja kecil itu. Satu poci teh dan cangkir kecil tersedia diatas meja. Bahkan bunga segar pun nampak berada di sudut meja. Dengan tangan gemetar, Putri Kim menuangkan air yang berada dalam poci tersebut kedalam cangkir. Ia seolah sedang memberikan minuman untuk ayahnya tercinta. Ia duduk dihadapan meja itu. Seolah ia sedang duduk menghadap sang ayah.

 

“aku pulang, ayah…. Bagaimana kabarmu? … aku… aku sangat merindukan ayah…” Putri Kim tertunduk sambil memejamkan mata. Ia tidak ingin menangis, ia tidak ingin ayahnya bersedih jika melihatnya menangis disini. Sekuat tenaga ia berusaha agar tidak membiarkan airmatanya jatuh.

 

“ayah… mengapa ada banyak hal yang kau sembunyikan dariku?… Bangsawan Cho….” bibir Putri Kim tersenyum kecil.

“kau tahu ayah, dia ternyata adalah orang yang sangat baik. dia… dia telah menjadi suamiku saat ini. Aku tidak pernah menyangka dia seorang lelaki yang sangat lembut… dia bisa menghilangkan kesedihanku, bahkan dia selalu membuatku tersenyum… saat ini, aku sangat bahagia… ayah, kau tidak salah memilihkan seorang suami untukku… a-ayah… apakah disana, kau bisa melihatku? Kau bisa melihat kebahagiaanku? Aku… aku benar-benar sangat merindukan ayah… jika masih mungkin… aku… aku sangat ingin melihat wajah ayah…” saat ini, bulir airmata di pipinya telah mengalir dengan deras. Putri Kim mencoba menahan isak tangisnya, namun tidak bisa. Kerinduan yang sangat besar pada ayahnya, tidak bisa membuat hatinya bertahan terlalu lama. Putri Kim menangis tersedu sambil menangkupkan kepalanya diatas meja.

 

Seseorang yang berdiri sejak tadi diluar, hanya mendengarkan isakan Putri Kim dengan hati yang pilu. Ia ingin sekali masuk kedalam, namun kakinya terasa berat untuk melangkah. Tidak… jika masuk kedalam, maka ia akan mengkhianati kepercayaan Putri Kim padanya. Tapi perasaan hatinya tercabik saat mendengar tangisan lirih itu. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Sedangkan untuk pergi meninggalkan tempat itu, ia tidak tega. Tangannya yang sejak tadi bersiap untuk membuka pintu, perlahan ia turunkan kembali. Sambil bersandar di pilar beranda, ia menatap langit mendung yang membawa awan gelap menuju Istana Timur.

 

“langit… turunkanlah hujan, agar aku tidak bisa mendengar suara kesedihannya lagi…” bisik Lee pelan sambil terus menatapi awan mendung itu. Perlahan ia memejamkan mata, dan tak lama kemudian tetesan air mulai turun membasahi bumi. Lee seakan tidak percaya, harapannya terkabul dengan sangat cepat. Saat ini tangisan Putri Kim tidak terdengar lagi, hanya suara derasnya air yang menimpa genting bangunan terdengar dengan sangat jelas. Lee hanya berdiri di beranda luar. Menikmati sejuknya angin yang menyentuh permukaan wajahnya, dan sesekali air hujan sedikit memercik pada wajahnya yang tampan.

 

Setelah beberapa saat, Putri Kim menghentikan tangisannya. Ini bukanlah tangisan kesedihan, tapi ini adalah tangisan kerinduan. Ia sangat rindu pada ayahandanya, sehingga ia tidak bisa menahan airmatanya tadi. Mendengar suara deru hujan, perlahan ia bangkit menuju jendela kamar, lalu membukanya perlahan. Saat jendela terbuka, ia agak terlonjak kaget menatap seseorang yang berdiri di beranda depan. Pria itu masih tetap disana, menatapi tetesan demi tetesan air hujan yang jatuh membasahi tanah. Putri Kim menatap pria itu dengan hati yang tenang. Setidaknya, berada di samping Lee saat ini, bisa membuat perasaan hatinya jauh lebih baik.

 

“aku akan baik-baik saja jika bersama Lee” bisik Putri Kim sekilas.

 

~o~

 

Setelah Putri Kim meninggalkan Istana Bangau Terbang, maka Bangsawan Cho pun mulai bersiap untuk berangkat menuju Guangju. Perjalanannya hanya ditemani oleh Jung Dae. Perasaan hatinya yang tidak seperti biasa membuat Bangsawan Cho merasa cemas pada keselamatan istrinya. Selain itu, ia pun merasakan perasaan lain pada keberangkatannya kali ini ke Guangju. Walaupun ia tidak tenang, tapi tetap saja ia harus berangkat kesana. Pertemuannya dengan pedagang China kali ini bukanlah hanya sebatas perdagangan kain sutra saja, tapi ia telah mencurigai adanya sesuatu yang tidak beres pada kedatangan mereka ke Joseon.

 

Hanya sekitar dua jam perjalanan, saat ini Bangsawan Cho telah tiba di sebuah penginapan yang menjadi tempat pertemuan mereka. Bangsawan Cho meminta Jong Dae untuk beristirahat terlebih dulu karena masih ada waktu sebelum pertemuan itu diadakan.

 

Suasana penginapan itu terasa sedikit ganjil. Walaupun terdapat beberapa tamu dan juga pelayan, tapi Bangsawan Cho merasakan ada sesuatu yang lain. Sang pemilik penginapan yang bertampang sangar dan terlihat tidak ramah, hanya berkata beberapa kalimat saja. Biasanya, seorang pemilik penginapan akan bertanya dengan ramah apa saja yang diinginkan pelanggan. Tapi dia berbeda. Selain itu, para pelayan yang berlalu lalang, hanya memberikan tatapan curiga padanya. Kendati merasa tidak nyaman, tapi Bangsawan Cho menyimpan semua prasangakanya dalam  hati. Mungkin telah menjadi sifat orang dari daerah Guangju memperlakukan tamu seperti ini.

 

 

Bangsawan Cho telah menempati tempat duduknya saat ini. Hari telah menjelang sore, tapi para pedagang China itu masih belum memperlihatkan diri. Pelayan menyajikan sepoci teh untuk Bangsawan Cho. Sambil menunggu kedatangan para pedagang China, Bangsawan Cho menyesap teh yang telah disajikan oleh pelayan itu. Rasa teh itu sangat nikmat, selama ini ia tidak pernah merasakan rasa teh yang sangat berbeda seperti ini. Tanpa sadar, Bangsawan Cho kembali menuangkan teh itu kedalam cangkirnya. Hampir setengah dari isi poci itu kini telah beralih kedalam perut Bangsawan Cho. Tapi kemudian ia merasakan sesuatu di dalam kepalanya. Tangan kirinya memijat pelipis yang terasa sakit.

 

“Tuan, anda tidak apa-apa?” tanya Jong Dae khawatir.

 

“entahlah… aaarghh… kenapa kepalaku terasa sakit seperti ini?” Bangsawan Cho meringis menahan sakit dan pusing yang kini mendera kepalanya.

 

Jong Dae segera mengambil poci teh dan mencium aroma-nya. Namun tidak ada yang aneh dari isi poci tersebut.

 

“pelayan… pelayan…” teriak Jong Dae memanggil pelayan yang telah memberikan teh untuk Bangsawan Cho tadi. Menurutnya, dia lah orang yang paling bertanggung jawab pada keadaan Bangsawan Cho saat ini.

 

Beberapa detik kemudian, Bangsawan Cho tidak sadarkan diri. Kepalanya tertelungkup diatas meja, dan kedua tangannya menjuntai lemas ke bawah.

 

“B-Bangsawan Cho…” Jong Dae kaget melihat tuannya seperti ini.

 

Tanpa diduga, beberapa orang bersenjata kini telah mengepung Jong Dae dan Bangsawan Cho. Pedang yang ada di tangan mereka terlihat berkilatan terkena cahaya lampu di ruangan itu.

 

“hahaha… ternyata tidak sesulit itu…” tawa salah satu dari mereka dengan nada meremehkan.

 

“kalian siapa?” tanya Jong Dae dingin, ia pun segera menyiapkan pedang yang sejak tadi dipegangnya.

 

Orang yang tertawa tadi mengisyaratkan kepalanya pada anak buahnya agar segera membawa Bangsawan Cho dari tempat itu. Tapi Jong Dae tidaklah tinggal diam.

 

“berani kalian menyentuh Bangsawan Cho, maka kalian akan mati” ancam Jong Dae tegas.

 

“kau pikir aku takut?” orang itu segera menyerang Jong Dae. Dia mengarahkan pedang tepat kearah perut Jong Dae, tapi ia segera menghindar. Namun, anak buah penjahat itu tidaklah tinggal diam. Mereka segera mengeroyok Jong Dae hingga pedangnya terlepas dari tangan Jong Dae. Setelah itu, mereka mulai memukuli Jong Dae hingga dia babak belur dan akhirnya tidak sadarkan diri.

 

Sang ketua hanya tertawa melihat keadaan Jong Dae saat ini.

 

“bawa mereka. Dan pastikan mereka tidak bisa keluar dari dalam gudang hingga esok hari” perintah sang ketua.

 

“apakah kita harus membunuh mereka?” tanya salah satu anak buah yang telah memegangi tangan Bangsawan Cho.

 

“tidak perlu. Gubernur Yun ingin agar kita membawa orang ini dalam keadaan hidup” seringai licik terlihat dari wajah sang ketua.

 

Setelah itu, mereka meninggalkan penginapan. Tubuh Bangsawan Cho dan Jong Dae diseret menuju sebuah gudang. Mereka mengikat tangan Jong Dae dan Bangsawan Cho dengan ikatan yang sangat kuat. Dua orang penjaga ditempatkan didepan pintu, untuk memastikan bahwa mereka tidak akan melarikan diri.

 

~o~
Gubernur Yun tersenyum mendengar penuturan Man Bo. Ia melaporkan bahwa saat ini Bangsawan Cho telah terkurung didalam gudang, dan tidak mungkin melarikan diri.

 

“bagus. Aku akan membuatnya berlutut dikakiku untuk meminta kematian. Aku ingin melihat apakah dia masih bisa bertahan jika segala yang dia miliki hilang begitu saja. Kekayaan, istana, keluarga, bahkan istrinya. Hahaha… inilah akibatnya jika berani melawanku…” Gubernur Yun menyeringai licik.

 

Saat ini ia masih berada diatas kudanya. Segera ia memerintahkan anak buahnya untuk menjalankan apa yang telah ia rencanakan selama ini. Gubernur Yun menganggukan kepalanya kepada Man Bo. Dan pria itu langsung memerintahkan anak buahnya untuk menuju Istana Bangau Terbang.

 

Dua orang pengawal yang berdiri di luar pintu gerbang, tiba-tiba terkapar saat dua anak panah menancap didada mereka masing-masing. Orang suruhan Gubernur Yun segera masuk kedalam istana, dan tanpa menunggu lagi salah satu diantara mereka menjatuhkan obor kedalam ruangan pribadi Bangsawan Cho. Karena isi dari ruangan itu kebanyakan adalah buku dan kertas, maka dengan mudah api melalap bangunan. Setelah itu mereka menuju bangunan-bangunan yang lain dan menjatuhkan obor yang menyala kedalam ruangan yang mereka lewati.

 

Jeritan histeris kini mulai terdengar. Tuan dan Nyonya Cho tampak kebingungan pada keadaan ini. Beberapa pengawal membawa mereka ketempat yang aman. Suasana Istana Bangau Terbang saat ini tampak kacau dengan api yang membakar hampir seluruh bangunan istana. Begitupun dengan Paviliun Anggrek Biru. Para pelayan wanita menangis dengan kencang, merasa takut dan ngeri melihat api yang berkobar dengan cepat menghabiskan bangunan istana. Sedangkan pelayan laki-laki sibuk untuk memadamkan api yang kian membesar.

 

Dari kejauhan, Gubernur Yun dapat dengan mudah melihat api yang menyala-nyala menghabiskan Istana Bangau Terbang. Tidak lama kemudian Man Bo datang menghampiri.

 

“dimana dia? Aku ingin kalian membawa mayatnya kemari” kata Gubernur Yun dengan penuh dendam.

 

“maaf Tuan, Putri Kim saat ini tidak berada di Istana” Man Bo menunduk.

 

“apa kau bilang?” bentak Gubernur Yun.

 

“dia memang tidak berada di sini. Tapi… dia berada di Istana Timur” jawab Man Bo tenang sambil menatap lekat mata Tuannya.

 

“Istana Timur… hmmh… sudah lama aku tidak berkunjung kesana… hahaha…. Hahahaha… rupanya wanita itu ingin mati langsung ditanganku” terlihat raut kepuasan di wajah Gubernur Yun. Tidak lama lagi ia akan menghilangkan nyawa orang yang sangat ingin ia nikahi. Seandainya dulu Tuan Kim bersedia menikahkan putrinya dengan dirinya, maka kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi.

 

“Man Bo, ayo kita berkunjung ke Istana Timur. Sudah lama kita melupakan tempat itu…” seringai Gubernur Yun sambil memacu kudanya dengan cepat menuju Istana Timur.

 

~o~

 

Malam baru saja beranjak naik. Udara yang dingin membuat Putri Kim semakin menyusupkan dirinya dalam selimut yang hangat. Dari luar terdengar dengan sangat jelas angin yang kencang berhembus yang membuat dedaunan saling bergemerisik.

 

Dari arah gerbang depan terdengar suara keributan. Bahkan suara benda tajam yang saling beradu pun terdengar sangat jelas di telinga Lee. Pria itu segera memeriksa apa yang terjadi. Dan, matanya membulat terkejut sekaligus marah melihat Gubernur Yun dan anak buahnya sedang bertarung melawan para pengawal Istana Timur.

 

“Kau pikir apa yang kau lakukan???” tanya Lee sambil memukul satu persatu anak buah Gubernur Yun hingga terjatuh.

 

“haah, rupanya kau ada disini. Dimana gadis itu?” Gubernur Yun bertanya dengan nada yang sangat menjijikan.

 

“untuk apa kau mencarinya? Kau tidak punya urusan apapun dengan Putri Kim” desis Lee dingin.

 

“Man Bo, habisi dia… pastikan dia ikut menyusul Tuannya kealam baka” perintah Gubernur Yun yang dibalas anggukan patuh dari Man Bo.

 

Gubernur Yun meninggalkan tempat itu. Lee mencoba untuk menahan kepergian Gubernur Yun, tapi pedang Man Bo telah berada di lehernya. Ia terpaksa bertarung melawan Man Bo sebelum menyelamatkan Putri Kim.

 

 

“Putri Kim… bangun… Putri…” Hyosun membangunkan Putri Kim yang masih terlelap tidur. Perlahan kepalanya mulai bergerak dan berusaha untuk membuka matanya.

 

“Hyosun-ah… ini masih malam. Kenapa kau membangunkanku?” tanya Putri Kim sambil duduk ditempat tidurnya.

 

“ini bahaya Putri. Kita harus segera pergi dari Istana ini” kata Hyosun dengan suara yang gemetar ketakutan.

 

“ada apa? bahaya apa maksudmu?” mendengar kata bahaya yang diucapkan oleh Hyosun berhasil membuat kesadaran Putri Kim kembali.

 

“di gerbang depan terjadi keributan Putri. Gubernur Yun… dia… dia membantai seluruh pelayan yang sedang terlelap tidur. Saya segera melarikan diri kemari agar kita bisa selamat darinya”

 

Mendengar nama Gubernur Yun, mendadak perut Putri Kim merasakan mual. Dia sangat membenci orang itu. Seorang yang biadab yang telah tega membunuh ayah yang ia cintai. Dan sekarang ia membantai para pelayan yang tidak berdosa apapun. Ini tidak bisa dibiarkan.

 

“lalu dimana Lee?” kecemasan dan ketakutan itu kini terdapat pula pada nada suara Putri Kim.

 

“saya tidak tahu Putri. Sepertinya dia berada di gerbang depan. Sebaiknya mari kita segera pergi” ajak Hyosun, dan Putri Kim mengangguk paham. Sebelum mereka keluar Putri Kim meraih sesuatu dari atas meja. Pisau katana yang pernah diberikan oleh Lee untuknya.

 

Hyosun dan Putri Kim berjalan kearah pintu kamar. Namun, belum sempat Hyosun untuk meraih pegangan pintu, pintu itu telah terbuka dengan paksa. Kedua wanita itu tampak kaget, bahkan Putri Kim membulatkan matanya, kulit wajahnya berubah menjadi pucat saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu itu.

 

“hehehe… senang bisa bertemu lagi denganmu, Putri Kim. Lama tidak bertemu” Gubernur Yun terkekeh saat melihat Putri Kim yang berdiri mematung melihat kedatangannya.

 

Perlahan kaki Gubernur Yun melangkah masuk kedalam kamar. Dan secara otomatis Putri Kim memundurkan langkahnya. Tubuhnya terasa gemetar melihat lelaki tua dihadapannya terus mendekati dirinya.

 

“biadab… apa yang kau inginkan sekarang hah?” tanya Putri Kim dengan geram. Matanya memancarkan rasa amarah yang kini terkumpul dalam hatinya. Tangannya mengepal mencoba menahan emosi yang ingin sekali meledak saat ini juga.

 

“cckk.. Mengapa kau berkata sekasar itu Putri? Sebagai seorang putri dari mentri yang terpelajar, kau tidak seharusnya berkata seperti itu” Gubernur Yun menggelengkan kepalanya sambil matanya menatap tajam pada mata Putri Kim.

 

“keluar dari tempat ini sekarang juga” desis Putri Kim penuh dengan kebencian.

 

“jika aku tidak mau, bagaimana?” Gubernur Yun menyeringai.

“kau… bersikaplah manis, Putri Kim” kata Gubernur Yun sambil merentangkan tangan kanannya untuk menyentuh pipi Putri Kim. Tapi, belum sempat jemarinya menyentuh pipi halus Putri Kim sebuah kayu telah menghantam lengannya dengan keras.

 

“aku tidak akan pernah membiarkan tangan kotormu menyentuh Putri Kim, biadab” Gubernur Yun menatap Hyosun dengan pandangan jijik. Bagaimana bisa seorang pelayan menghentikan kesenangannya.

 

“berani sekali kau pelayan rendah” tanpa ragu, Gubernur Yun memukulkan pedangnya pada pipi Hyosun hingga gadis itu terjatuh dan pingsan.

 

“Hyosun-ah….” jerit Putri Kim tidak percaya pada pemandangan barusan, ia segera menghampiri Hyosun yang tidak sadarkan diri.

“kau… kau sungguh kejam. Bagaimana mungkin kau melakukan hal seperti ini pada Hyosun” teriak Putri Kim sambil menatap tajam Gubernur Yun.

 

“itu adalah salahnya, yang telah berani mengganggu kesenanganku” kata Gubernur Yun sambil berjalan menghampiri Putri Kim yang duduk di lantai.

 

Melihat Gubernur Yun yang mendekat padanya, Putri Kim memundurkan kakinya. Ia terseok karena saat ini ia masih duduk di lantai, hingga gerakannya terhenti ketika punggungnya menyentuh lemari kecil dibelakang dirinya. Gubernur Yun hanya tersenyum penuh kemenangan melihat Putri Kim yang tidak bisa melarikan diri lagi darinya.

 

“cckk… kau tidak perlu takut… walaupun kau yang telah mengacaukan hidupku, tapi aku bisa membuatmu bahagia. Asalkan kau mau ikut denganku, maka semua masalah akan selesai” bujuk Gubernur Yun dengan suara yang lembut, tapi terdengar sangat memuakkan di telinga Putri Kim. Tangan kanannya terjulur menantikan tangan Putri Kim menyambutnya.

 

“kau gila. Mana mungkin aku akan ikut denganmu, setelah apa yang telah kau lakukan pada ayahku, kau tidak akan bebas begitu saja. Kau akan mendapat hukuman yang setimpal dengan semua kejahatanmu” tandas Putri Kim geram. Ditentangnya mata kelam Gubernur Yun tanpa rasa takut.

 

“kau…. Kau wanita yang keras kepala” Gubernur Yun menahan amarahnya. Tangan kanan yang tadi ia julurkan, kini berada disamping kepala Putri Kim menghalangi agar gadis itu tidak melarikan diri.

“kau tahu, kematian ayahmu, itu adalah salahnya sendiri. Jika ia menuruti perintahku, maka saat ini dia masih hidup. Seharusnya kau salahkan suamimu, dialah penyebab kematian ayahmu” bisik Gubernur Yun sambil tangan kirinya meraih dagu Putri Kim. Tidak bisa dilukiskan betapa marahnya Putri Kim mendengar omong kosong lelaki tua dihadapannya itu.

 

“saat ini tidak ada gunanya kau marah padaku… sebaiknya, jadilah gadis yang baik dan turuti perkataanku” gumam Gubernur Yun sambil mendekatkan kepalanya ke wajah Putri Kim. Tapi sebelum lelaki itu mendapatkan apa yang ia inginkan, tubuhnya tiba-tiba terjungkal sambil tangannya memegangi pipi kanannya yang terasa panas. Darah segar segera keluar dari pipi Gubernur Yun membasahi tangannya yang masih memegangi pipi kanannya. Sementara kakinya terasa sakit, setelah Putri Kim menendangnya dengan keras tepat pada tulang kering betis kanannya.

 

“jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Waktumu telah habis Gubernur Yun” kata Putri Kim dengan suara yang gemetar. Tangan kanannya menggenggam katana yang tadi telah ia goreskan pada pipi Gubernur Yun, terlihat sisa darah di pisau kecil itu.

 

“berani sekali kau melakukan hal ini padaku” geram Gubernur Yun sambil meraih pedang yang tanpa sengaja tadi ia jatuhkan.

 

Melihat Gubernur Yun yang berusaha meraih pedangnya kembali, Putri Kim segera bangkit dari duduknya. Ia merasakan bahaya yang besar mengancamnya jika ia masih berada didalam kamar itu. Dengan sisa kekuatannya, Putri Kim berlari meninggalkan kamarnya. Perlahan, Gubernur Yun berjalan menuju pintu keluar. Luka di pipinya terasa kian panas, walaupun itu adalah luka dari pisau kecil, namun luka itu cukup dalam yang menyebabkan darahnya banyak keluar.

 

“haha… larilah Putri Kim. Kau pikir kau akan selamat? Hahaha” Gubernur Yun tertawa puas. Agak terseok, ia mengikuti Putri Kim. Ia yakin, seberapa cepat lari gadis itu, ia masih bisa mengejarnya.

 

~o~

 

Bangsawan Cho mulai membuka mata. Pemandangan yang buram dan remang-remang kini mulai muncul pada indra penglihatannya. Rasa pegal yang hebat terasa di pergelangan tangannya. Saat ia mencoba untuk menggerakkannya terasa sangat sulit. Beberapa detik kemudian, Bangsawan Cho seolah menyadari dimana kini dirinya berada. Ia membuka matanya dengan lebar menatap gudang yang berisi jerami kering. Kepalanya menoleh kearah kiri, dan ia menemukan Jong Dae dalam keadaan terikat seperti dirinya.

 

“Jong Dae… Jong Dae… bangunlah! Kau bisa mendengarku?” bisik Bangsawan Cho sambil menatap bergantian pada pintu dan pada Jong Dae.

 

Erangan kecil terdengar dari mulut Jong Dae. Ia mencoba menggerakkan kepalanya, dan saat ia menyadari keadaannya terikat seperti Bangsawan Cho, ia pun terlihat kaget.

 

“Tuan” lirih Jong Dae.

 

“sssttt…” Bangsawan Cho segera meminta Jong Dae agar tidak bersuara.

 

“apa yang terjadi Tuan?” tanya Jong Dae sambil berbisik.

 

“aku tidak tahu. Seharusnya aku yang bertanya padamu” jawab Bangsawan Cho dengan berbisik juga. Tangannya berusaha melepaskan ikatan kuat yang mengikat kedua tangannya.

 

“aah… Tuan, kedatangan anda kemari sepertinya adalah rencana dari Gubernur Yun” kata Jong Dae setelah beberapa saat.

 

“apa? Gubernur Yun?” Bangsawan Cho menautkan kedua alisnya.

“sial… seharusnya aku lebih berhati-hati” Bangsawan Cho geram pada keteledorannya. Seharusnya ia bisa membaca apa yang direncanakan oleh gubernur biadab itu, tapi kali ini ia lengah.

 

“Jong Dae, bisakah kau membuka ikatanku? Kita harus segera meninggalkan tempat ini sekarang juga” tiba-tiba ingatan Bangsawan Cho mulai mencemaskan keadaan Putri Kim. Bagaimana jika Gubernur Yun sengaja memintanya datang ke Guangju, karena ia ingin mencelakai Putri Kim. Bayangan wajah Putri Kim semakin jelas dalam pikirannya.

 

Jong Dae menatap sekelilingnya, namun tidak ada yang bisa ia jadikan alat untuk membuka ikatan tali di tangan Bangsawan Cho.

 

“tuan, kemarilah” angguk Jong Dae, dan Bangsawan Cho segera memberikan ikatan tangannya, karena ia pikir Jong Dae telah menemukan sesuatu yang bisa membuka ikatannya.

 

“saya tidak bisa menemukan alat yang bisa membuka ikatan talinya, tapi semoga, gigi saya masih kuat untuk melepaskan tali itu” kata Jong Dae sambil menundukkan wajahnya. Lalu dengan bantuan giginya, ia berusaha membuka simpul tali yang terikat dengan kuat itu. Bangsawan Cho pun tidak tinggal diam, ia menggerak-gerakan tangannya agar mempermudah pekerjaan Jong Dae. Tapi beberapa menit kemudian, pintu terbuka yang menyebabkan Jong Dae segera kembali pada tempatnya tadi. Bangsawan Cho menelan ludah ketika ia melihat orang itu.

 

“kau siapa?” tanya Bangsawan Cho dingin.

 

“kau tidak perlu tahu siapa aku… yang jelas, seseorang menginginkanmu agar tetap berada di sini” terang orang itu, yang menjadi ketua penjahat yang menyerang Jong Dae di penginapan.

 

“siapa? siapa yang telah menyuruhmu? Gubernur Yun?” Bangsawan Cho geram.

 

“tenanglah… jika dia telah selesai dengan urusannya maka ia akan segera datang kemari” kata orang itu dengan santai.

 

Tanpa sepengetahuan ketua penjahat itu, saat ini tali yang mengikat tangan Bangsawan Cho telah melonggar. Bangsawan Cho merasa lega, tapi ia tidak memperlihatkannya pada sang ketua penjahat.

 

“urusan apa yang dia lakukan saat ini?” tanya Bangsawan Cho kesal.

 

“katanya dia ada sedikit urusan di Istana Bangau Terbang…” jawab sang penjahat dengan nada yang senang.

 

Mendengar nama istananya disebut, sontak Bangsawan Cho dan Jong Dae menatap kaget pada orang yang ada dihadapan mereka.

 

“apa yang dia lakukan di istanaku?” perasaan Bangsawan Cho semakin tidak karuan saat ini. Ia teringat pada ayah dan ibunya, juga pada Putri Kim.

 

“dia… hanya mengatakan, akan menghilangkan barang bukti atas kejahatannya” seringai sang penjahat.

“selain itu, ia ingin membuatmu membayar atas kekacauan yang terjadi dalam hidupnya”

 

“apa?” Bangsawan Cho menatap geram sang penjahat.

 

“seharusnya saat ini kau khawatirkan istrimu. Sepertinya Gubernur Yun mempunyai dendam yang besar padanya”

 

Saat ini entah apa yang ada dalam pikiran Bangsawan Cho. Mengingat istrinya dalam bahaya, dia tidak bisa tinggal diam. Dirinya harus melakukan sesuatu. Tepat saat tali yang mengikat tangannya terlepas, Bangsawan Cho segera menerjang sang penjahat hingga rubuh di tanah. Kedua tangan Bangsawan Cho segera mencengkram leher orang itu membuatnya kesulitan bernafas.

 

“katakan, apa rencana Gubernur Yun pada istriku? Katakan sekarang juga” desis Bangsawan Cho sambil mengeratkan pegangannya di leher sang penjahat.

 

“d… dia… ak…. Akan… mem…bunuh… istrimu…” dengan susah payah, sang penjahat itu bisa mengeluarkan suaranya.

 

“sialan” Bangsawan Cho melepaskan cengkraman tangannya di leher sang penjahat.

 

Saat dirinya akan bangkit, seseorang memukul punggung Bangsawan Cho hingga ia tersungkur.

 

“habisi dia. Aku tidak peduli Gubernur Yun menginginkannya hidup, bunuh dia sekarang juga” desis sang ketua sambil mengusap-usap lehernya yang sakit. Sang anak buah yang tadi memukul Bangsawan Cho bersiap untuk kembali memukul kepala Bangsawan Cho, tapi Jong Dae segera menendang orang itu hingga tersungkur.

 

Walaupun tangannya terikat kebelakang, tapi Jong Dae bisa meraih pedang yang berada diatas lantai. Dan tanpa membuang waktu, ia dengan mudah bisa memutus simpul yang mengikat kedua tangannya itu.

 

Bangsawan Cho mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah, lalu Jong Dae membantunya berdiri.

 

“Tuan, pergilah selamatkan Putri Kim. Saya bisa mengurus mereka disini” kata Jong Dae.

 

“kau yakin?” Bangsawan Cho menatap ragu pada orang kepercayaannya ini.

 

“mereka hanya berdua. Dan saya telah mempelajari titik kelemahan mereka. Pergilah menuju Istana Timur. Setelah ini selesai, saya akan segera ke Istana Bangau Terbang. Jangan khawatir Tuan, dan jangan membuang waktu”

 

Bangsawan Cho tampak memikirkan perkataan Jong Dae. Melihat kedua penjahat di hadapannya menyeringai menang, membuat Bangsawan Cho merasa marah.

 

“hmmh, tidak Jong Dae, aku ingin menghabisi mereka terlebih dulu” kata Bangsawan Cho sambil menarik bambu kecil / toya dari samping kanannya. Ia bisa menjadikan bambu itu sebagai senjatanya membela diri.

 

Bangsawan Cho segera menyerang sang ketua, dan Jong Dae menyerang sang anak buah. Dentingan pedang Jong Dae terdengar sangat jelas, sementara, Bangsawan Cho memainkan tongkat toya dengan cepat. Beberapa kali pukulan toya itu mengenai kepala dan juga tubuh sang ketua, dan itu bukanlah pukulan yang ringan, terbukti dari beberapa kali sang ketua merasakan mual di perutnya saat bambu itu memukul tepat di ulu hatinya.

 

Pukulan terakhirnya, Bangsawan Cho mengarahkan toya itu tepat kearah sang ketua, tapi sayang pedang tajam itu telah membuat toya itu patah menjadi dua. Bangsawan Cho menyeringai menang, saat ujung toya itu berubah menjadi runcing akibat tebasan pedang sang ketua. Dan tanpa menunggu waktu yang lama, Bangsawan Cho segera menendang sang ketua hingga jatuh terbaring diatas tanah. Lututnya segera menahan pergerakan tangannya yang memegangi pedang hingga tidak bisa bergerak lagi dan tanpa ampun, dengan sekuat tenaga, Bangsawan Cho menancapakan ujung toya itu di leher sang ketua. Darah segar mengalir deras dari luka tusukan itu. Mata sang ketua itu melotot dengan mulut yang menganga mengeluarkan banyak darah segar.

 

“Jong Dae, kau urus dia hingga selesai” teriak Bangsawan Cho pada Jong Dae yang masih melawan sang anak buah penjahat itu.

 

“baik Tuan”

 

Bangsawan Cho segera meninggalkan tempat itu. Ia memacu kuda-nya untuk bisa tiba di Istana Timur tepat waktu. Semoga saja ia belum terlambat. Dan semoga Lee bisa melindungi Putri Kim.

 

~o~

 

Putri Kim berlari tanpa arah yang jelas. Yang pasti dia harus menjauh dari Gubernur Yun. Jika ia tertangkap, mungkin lelaki biadab itu akan langsung membunuhnya. Sesekali ia melihat kearah belakang, memastikan bahwa tidak ada yang mengejarnya.

 

Tanpa sengaja, mata Lee menatap bayangan Putri Kim sekilas. Sejak tadi ia terus melawan Man Bo dan anak buahnya. Kemampuan pedang mereka tidak bisa ia remehkan begitu saja. Terbukti, hingga saat ini Man Bo masih terus bertahan menghadapi serangan pedang yang Lee berikan untuknya. Tapi, pandangannya pada Putri Kim tadi membuatnya sedikit lengah, hingga Man Bo berhasil melukai lengan kirinya. Sontak, Lee memundurkan tubuhnya untuk menghindari pedang Man Bo. Tidak ia rasakan darah yang mengucur dari lengan kirinya itu. Dari kejauhan, tampak Gubernur Yun dengan langkah terseok mengikuti kemana Putri Kim pergi.

 

“sial…” bisik Lee. Ia tidak berkonsentrasi pada Man Bo. Yang ada dalam pikirannya saat ini ialah Putri Kim.

 

Lee mencecar Man Bo dengan sekuat tenaganya. Ia ingin segera mengalahkan lelaki ini agar ia bisa menyelamatkan Putri Kim. Suara dentingan pedang terdengar dengan sangat jelas memecahkan kesunyian di malam itu. Tangan Lee dengan sigap memutar pedang itu hingga bisa mengenai tangan Man Bo. Tapi laki-laki itu tidak kalah sigap, saat tangan kirinya terluka, maka iapun segera menebaskan pedangnya pada tubuh Lee. Namun, sayang gerakannya kalah cepat dengan Lee. Dia berputar kearah belakang Man Bo, lalu tanpa menunggu waktu lagi pedang tajamnya segera menancap di punggung Man Bo yang membuat lelaki itu jatuh tersungkur. Pedang tajam Lee tepat mengenai jantung Man Bo, hingga tidak ada harapan lagi lelaki itu untuk hidup. Tubuhnya terkapar di tanah dengan darah yang masih mengucur deras dari punggungnya.

 

Putri Kim terseok memundurkan tubuhnya. Saat ini kakinya tidak bisa ia gerakkan karena sakit terantuk batu saat ia berlari tadi. Gubernur Yun tertawa mengejek melihat Putri Kim yang ketakutan di hadapannya. Gubernur Yun mempermainkan ujung pedang itu di dagu Putri Kim. Gadis itu kini semakin ketakutan. Bibirnya terus menerus gemetar dan kulit wajahnya semakin pucat. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya jika pedang itu harus menghujam tubuhnya.

 

“tidak. Kau tidak pantas untuk mati dengan cepat… setidaknya, kau harus membayar terlebih dulu luka di wajahku ini” kata Gubernur Yun sambil tangan kirinya mengusap pipinya yang masih terasa sakit, namun darahnya sudah tidak terlalu banyak keluar. Dapat Gubernur Yun rasakan wajahnya yang terasa sakit saat ia berbicara. Lalu, tanpa Putri Kim duga, tangan kasar Gubernur Yun dengan keras menampar pipinya hingga ia terjerembab.

 

“Aaaah…” Pekik Putri Kim sambil memegangi pipinya yang panas seolah terbakar. Entah sejak kapan airmata itu telah mengalir di pipi Putri Kim.

 

“itu masih belum ada apa-apa dibandingkan dengan apa yang telah kau lakukan dalam hidupku… Putri Kim, apa kau ingin menyusul ayahmu?” tanya Gubernur Yun pelan.

 

“jawab aku, apakah kau ingin menyusul ayahmu?” dengan kasar, Gubernur Yun menarik dagu Putri Kim agar menatap wajahnya, dapat terlihat darah di sudut bibir Putri Kim akibat tamparan Gubernur Yun tadi.

 

“w-walaupun aku mati, tapi itu tidak akan mengubah apapun. Kejahatanmu akan terungkap, dan kau juga akan mati” desis Putri Kim parau.

 

“kau mengancamku? Aku sama sekali tidak takut. Yang harus kau cemaskan adalah, bagaimana dengan suamimu nanti? apakah ia akan gila karena kematianmu? Aku akan membuatnya menderita seumur hidupnya, dengan membunuhmu. Hehehe” Gubernur Yun terkekeh melihat wajah kaget Putri Kim.

 

“j-jangan s-sakiti suamiku… aku mohon…” Putri Kim tidak kuasa menahan tangisnya.

 

“jika kau mau, aku bisa membuat kalian bersatu di alam sana. Hahaha” Gubernur Yun tertawa dengan penuh kemenangan, segera dihempaskannya wajah Putri Kim hingga ia kembali tersungkur diatas tanah.

 

“aku tidak pernah menyangka, bahwa aku harus membunuhmu dengan tanganku sendiri.. Semuanya karena ayahmu, jadi jangan pernah menyalahkanku. Semua adalah salah ayahmu, ingat itu. Jika dia membiarkan kita menikah, maka hidupmu tidak akan seperti ini… aku sangat merasa kasihan pada nasibmu, Putri Kim… “Putri Kim terisak mendengar kata per kata Gubernur Yun. Hatinya sangat sakit, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

 

Gubernur Yun kembali mendekati dirinya, dan kembali ia menarik dagu Putri Kim. Seringaian yang menyebalkan tetap diperlihatkan oleh gubernur sadis itu.

 

“sayang sekali airmatamu tidak akan mengubah apapun Putri Kim… kau harus segera meninggalkan dunia ini, dan kau harus segera menemani ayahmu yang kesepian menunggumu disana” Gubernur Yun berdiri ia bersiap dengan pedangnya. Tapi, ia menikmati saat dimana Putri Kim ketakutan pada pedangnya.

 

Putri Kim sudah tidak bisa mendengar apapun lagi, bahkan alampun seolah diam tanpa suara. Ketakutan yang menyelimuti perasaannya seolah telah membuat hatinya mati rasa. Tidak ada angin dan tidak ada suara binatang malam yang terdengar. Ia pasrah, karena memang ia tidak bisa melakukan apapun lagi. Jika takdirnya memang harus mati di tangan Gubernur Yun, ia rela. Ia sangat ingin menemui ayahnya, biarkanlah Bangsawan Cho dan juga Lee yang membalaskan kematian dirinya dan juga ayahnya.

 

Lee menatap pemandangan di depannya dengan tatapan kaget. Dia tidak bisa membiarkan Gubernur Yun membunuh Putri Kim di depan matanya sendiri. Tapi, jarak diantara dirinya dan Putri Kim sangat jauh. Lee memikirkan kemungkinan yang akan terjadi, dan ia menggeleng jika Putri Kim harus terluka atau kemungkinan terburuk — mati… Lee sudah tidak bisa berpikir lagi saat ia melihat pedang Gubernur Yun mengayun untuk menusuk perut Putri Kim. Dunianya kini seolah runtuh dan hancur berkeping-keping.

 

Putri Kim menutup matanya dengan tenang, saat ia melihat Gubernur Yun mengayunkan pedangnya untuk menusuk perutnya. Tidak lagi ia rasakan sakit… tidak lagi ia rasakan sedih… semuanya mati rasa… mungkin inilah kematian yang pernah dirasakan oleh ayahnya… Mungkin inilah akhir bagi dirinya merasa terluka atas apa yang terjadi pada Lee dan juga Bangsawan Cho. Walaupun ia memiliki Bangsawan Cho, tapi mereka tidak bisa hidup selamanya, hanya cintanya yang akan menemani Lee dan Bangsawan Cho setelah kematiannya nanti. Cinta Putri Kim tidak akan pernah mati, ia akan selalu tumbuh dalam hati orang-orang yang selalu mencintainya.

 

“maafkan aku ayah… Bangsawan Cho…. Lee… aku mencintai kalian semua” bisik Putri Kim dalam hati.

 

To Be Continue

 

*ayey, mianhe… jongmal mianhe… telaat pake banget apdetnya. Miann… *bow

Oh iya, scene Lee yang menatap hujan itu… kyaaa… bkin aku berblushing ria. Kenapa? karena aku bayangin wajah sungmin yang tampan dan tenang, memandangi tetes hujan dari langit. Ooh-yeaah.. Hihi.. Viiiss..

 

Aah, ini Bangsawan Cho, apakah udah cukup keren? Hehe… gimana ya, Bangsawan Cho itu, cocoknya buat romantis-romatisan aja, bukan buat berkelahi. Jadi, mian, kalo feelnya kurang dapet. ^^~~

 

Dan, ini gimana, udah cukup kejam belum si Gubernur Yun sama Putri Kim. Rasanya pengen cakar muka gubernur yun saat ia menampar bebebku tercinta (putri Kim) ish. Dan aku puas banget pas Putri Kim melukai wajah Gubernur Yun dengan katana. (hahaha, ini apa sih malah ngomenin ff sendiri. hahaha. Viis)

 

Ekhm, bagaimana nih chap ini? Aaw, apakah Putri Kim akan mati? Noooo… tapi aku nggak rela kalo Lee yang harus mati. Hiks.. *duagh.

 

Eummh, apakah Lee bisa menyelamatkan Putri Kim? Apakah dia akan mengorbankan dirinya, mati di tangan Gubernur Yun? Ataukah Bangsawan Cho keburu tiba di Istana Timur dan menghalangi Putri Kim, dan dia yang mati? Atau mendadak, Putri Kim bisa mengelak dari tusukan pedang Gubernur Yun???

 

Atau…

Atau…

Eumh…

Atau…

 

Tiba-tiba datang angin kencang, dan muncullah seorang eyang seksi yang bernama eyang kirey. Dia menghentikan waktu (seperti Do Min Jo) dan menusukkan pedang itu ke perut Gubernur Yun??? *towewew… nggak mungkin lah ya. Hehehe.

 

Silahkan tebak..

Dan tunggu kisah akhirnya di chap depan. Sampai ketemu entah berapa lama lagi. hehe…

Pliiiisss kasih komen dong… Pliiissss *bow… gamsamnida…

*yang nggak komen, suer, aku doain biasnya jelek. Serius loh. Nggak peduli bias kalian Kyu, atau Wook atau Min, yang pasti itu adalah kutukan dari Eyang Kirey… Hwaahwaahwaa. *Kyu, aku pinjam ketawamu yah ^^~

 

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 28, 2014 in (FF) Moonlight Melody

 

Tag: , , , ,

MinWook Series: Bad Mood >,<

*anggap aja, Wook lagi curhat. Hehehe…*

Wawancara, promosi album Swing, ayolaah, kalian tahu kan bagaimana padatnya jadwalku akhir-akhir ini. Setelah ini, aku harus latihan untuk drama musikal terbaruku. Selain itu, aku masih harus siaran di Sukira pada malam hari. Hyungdeul, bisakah jika aku absen satu kali saja? walaupun aku meminta dengan wajah memelas, haaaah, tentu saja aku tidak akan mendapatkan ijin. Selain itu, walaupun aku lelah, masih ada fans yang akan memberikan semangat untukku. Aku tidak ingin mengecewakan para fans yang dengan sepenuh hati terus mendukungku. Hmh, baiklah aku akan berusaha semaksimal mungkin agar penampilanku selalu membuat mereka puas. Iya, aku akan berusaha. Hwaiting!!!

Tapi aku tidak bisa…. Ayolah, aku sangat lelah. Sungguh… rasanya badanku remuk dan hancur. Selain karena tubuhku yang kecil, latihan drama itu sangat menyita energi. Oh Tuhan, aku mohon berikan aku kekuatan.

Hari ini, kami harus menghadiri satu acara, yaa, untuk promosi album SJM. Jujur, aku sedang tidak ingin berada diantara Hyungdeul. Kenapa? haruskah kalian bertanya? Kemarin Eunhyuk Hyung memarahiku karena katanya, aku tidak profesional dalam bekerja. Padahal, kurang apalagi aku memberikan penampilan terbaikku. Dia hanya tidak mengerti, aku benar-benar lelah. Yaa, bagaimana dia akan mengerti, toh, dia tidak pernah mengikuti salah satu drama musikal, hingga dia tidak merasakan kelelahan yang aku rasakan. Aku hanya bisa menangis, berharap Hyung-ku yang satu ini memahamiku.

Aku benar-benar berusaha keras untuk profesional di depan kamera. Tapi, tetap saja, ketika melihat Eunhyuk Hyung berbicara, rasanya aku jadi merasa marah. Bukan marah, seperti yang kalian pikirkan. Aku hanya tidak suka cara dia memarahiku seperti kemarin. Bagaimanapun juga, aku tetap menyayangi Hyungdeul. Tapi, aku merasa dia sedikit keterlaluan kemarin.

Aku sengaja berdiri agak menjauh dari Eunhyuk Hyung. Sungguh, saat ini kalian jangan menyuruhku untuk dekat-dekat dengan dia. Aku merasa belum siap. Aku tidak tahu bagaimana ekspresi wajahku tertangkap oleh kamera. Mungkin aku akan terlihat mengerikan dengan deathglare yang jarang sekali aku perlihatkan.

Aku tidak ingin mendekat. Sungguh. Aku ingin acara ini segera berakhir. Aku tidak bisa memaksa bibirku agar tersenyum. Hah, menyebalkan. *rolling eyes.

Tapi, sentuhan Sungmin Hyung di pundakku, membuatku tersadar, bahwa aku berdiri dengan jarak yang terlalu jauh. Jika dibiarkan, aku yakin fans akan bertanya-tanya ada apa dengan diriku. Aku tidak mau hal itu terjadi, walaupun enggan, tapi aku memaksakan diri untuk mendekat pada Hyung yang berada di sampingku.

Sungmin Hyung yang berdiri tepat di belakangku sepertinya menyadari ada “sesuatu” yang aneh denganku. Haah, aku tidak mengerti bagaimana bisa Sungmin Hyung mengetahui apa yang sedang aku rasakan. Kalian tahu, ketika aku merasa sedang bad mood, dia bisa membuatku kembali bersemangat. Pegangan tangannya yang erat membuatku merasa aman dan nyaman. Senyumnya yang hangat, selalu memberikan ketenangan tersendiri untukku.

Aku merasakan saat tangan Sungmin Hyung berada di dadaku, membuatku berpikir bahwa dia sedang menenangkanku. Aneh memang, tanpa kata, tanpa ekspresi apapun, aku tahu, Sungmin Hyung sedang menghiburku. Sentuhan tangannya, seolah berkata, bahwa aku akan baik-baik saja. Aku hanya harus bertahan di depan kamera, sebentar lagi saja.

Kalian tahu, walaupun tangannya hanya memegangi pundakku, tapi itu bisa membuatku merasa lebih baik. Jika teringat bahwa dia selalu ada di belakangku, dan mendukungku, aku merasa baik-baik saja. Aku kembali menikmati keberadaan tangan Sungmin Hyung yang tetap berada di pundakku. Aah, terasa nyaman. Haha, sungguh. Bahkan, aku bisa menggerakkan kembali bibirku untuk tersenyum. Kalian tidak percaya? Yaa, walaupun bukan senyum lebar, tapi kali ini moodku perlahan mulai membaik.

Sungmin Hyung… gomawoyo~~~ saranghae.. 🙂

~o~

*Jujur, aku nggak tahu ini acara apa.. 😦 adakah diantara reader yang tahu? Duuh, serem liatin deathglare nya Wook. Hahaha, daan, mian juga, aku Cuma punya gifnya doang. Jadi nggak tahu, ini Wook begini pas partnya siapa yang ngomong. Kekeke. V

tumblr_n3aqmhxUV51qbst9go1_r1_250tumblr_n3aqmhxUV51qbst9go2_r1_250tumblr_n3aqmhxUV51qbst9go3_r1_250tumblr_n3aqmhxUV51qbst9go4_r1_250

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 16, 2014 in MinWook Series

 

Tag: , , ,

MinWook’s Fact ^^~

MinWook lagi??? Iyups… Akhir-akhir ini aku lagi kepo abis sama ni couple imut. Nyari tahu apa aja sih fakta-fakta diantara mereka. Dan, alhasil, aku ngubek-ngubek Youtube hingga acak-acakkan. Hahaha. *nggak deng. Aku terlalu suka ngeliat kedekatan Sungmin dan Ryeowook ini. Sungmin itu sosok Hyung yang sangat sempurna bagi Wook. Dia selalu ada dimanapun dan kapanpun Wook butuh. Eyaaaahh.. 😀 v

Pengen tau, apa aja sih kejadian-kejadian yang pernah dialami Wook dan Umin? Mari kita check this out aja deh…

 

  1. Wook itu, tinggal di apartemen lantai 12, dan Sungmin di lantai 11. Ketika mereka bareng pake lift, pulang siaran bareng atau apapun, Wook nggak pernah mencetin tombol lift buat Sungmin. Kekeke. Sungmin pernah ngomel, kenapa nggak tolong pencetin sih Wook? Saat itu Wook iya-iya aja. Eeh, besoknya dia tetep aja nggak mencetin tombol buat Umin. Hihihi.. Eternal maknae dasar.
  2. Pernah deh suatu ketika, rambut wook dipotongin sama Sungmin. Pada saat itu mereka lagi  nonton film Titanic dan Wook tiduran di pahanya Min. Terus, si Umin ini mulai makan permen karet, nyam-nyam-nyam. Naah, ada satu scene di film itu yang bikin Umin teriak. *ekhm scene apa ya? Hahah. Dan itu menyebabkan permen karet yang ada di mulut Umin jatoh meluncur tepat di rambutnya Wook. *poor Wookie. Wook coba bersihin, tapi yaa, nggak bisa. Akhirnya tuh rambutnya di potong dikit sama Umin. Kekeke.
  3. Wook sangat berterima kasih sama umin. Kata Wook, dia sangat takut dan cemas, ketika Umin harus ninggalin Sukira. Tapi, Umin terus meyakinkan Wook, bahwa dia bisa men-DJ seorang diri.  Bahkan kadang-kadang Wook suka nangis, kalau ingat dia harus siaran sendirian.  Daan, kalian tau, kenapa Wook nggak mau duduk di tempat bekas kursi Umin? Karena dia pengen, suatu hari Sungmin akan kembali siaran, dan dia nggak mau menggantikan tempatnya Sungmin. Ciyeeeh..
  4. Ngomongin tipe cewek ideal. Cewek idealnya Sungmin tuh, cantik, bisa masak, bisa nyanyi, dan Umin ngerasa klik aja sama tuh cewek. Yaaah ini mah wook banget kan yah? hahaha. Sedangkan Wook, dia suka cewek yang rambut panjang dan digerai aja, nggak ada kriteria tertentu yang penting tuh cewek orangnya baik. O_O *kenapa aku tiba-tiba inget sama Krystal????  gggwook hahaha
  5. Sungmin itu paling khawatir klo liat Wook yang lagi mabuk. Wook bisa ngabisin 2-4 botol soju klo moodnya lagi baik, misalnya setelah selesai konser. Dan apa yang terjadi setelah Wook mabuk? dia bakalan nangis dan ketawa, terus ngelakuin banyak hal. Kata Umin sih kalo Wook lagi mabuk, nyeremin banget. Hahaa.. Dan tambahan kata umin, Wook, cepetlah gede, ntar ikutan lomba minum wine di China. Hahaha. eh, ini foto-nya, mata Wook udah mabok banget yah. *plaak Bc58htgCcAA6B7x
  6. Umm, ngomongin tentang kejujuran nih, Umin itu nggak bisa dibohongin sama Wook. Aaww..  Karena Umin tau, ketika wook bohong, dia nggak akan menatap kedalam mata sungmin. Hahaha. Ciyeeehh…
  7. Perbedaan mendasar antara Sungmin dan Wook adalah, di tangan Wook itu ada bulu-bulu nya, sedangkan Umin, muluuusss licin. Kata Umin, huaaah wook punya banyak bulu di tangannya. *sambil liatin tangan si Wook. Naah kata wook, iyalah, tangan cowok mesti punya bulu keleuuss.. ^^~
  8. Menurut Sungmin, Wook itu sexy ketika lagi nyanyi. Kyaaa… mana bilang sexy nya juga sambil mendesah pula. Sekseeeehhh.. >,< Kata Wook, bibir umin yang keliatan seksi. Hihii.. Duuh dua anak ini..  47737c9atw1ee1v7agzofj20m80xc1bf Bgk0-1ICQAAtXbU
  9. Umin itu paling seneng ngajakin Wook sebagai temen latihan. Mau itu latihan nyanyi, atau dance. Kata Wook *di surat yang dia tulis buat umin, dia bilang. Seneng banget bisa latihan sama Sungmin Hyung. bagi Wook yang nggak melalui waktu trainee yang lama, Wook merasa beruntung bisa latihan bareng Umin. Wook masih inget ketika ia berlatih buat nyanyi You Are The One, uumm dan lagu Good Friends. Mereka latihan nyanyi berdua di dalam ruangan latihan yang kosong. Dan.. Dan.. Dan.. Haha.. >///<
  10. Wook dan Umin ini sama-sama ngefans sama Kyuhyun. Huahahhaa. Wook itu paling suka denger Kyu yang nyanyi lagu (mian, aku lupa judul lagunya 😦 ) Kata Wook, suatu hari kita mesti nyuruh Kyu nyanyi lagu ini ketika ia ke Sukira. Eeh, kata Umin, aku sih sebelum tidur bisa dengerin suara Kyu yang nyanyi lagu itu.  Bener-bener bikin nyaman. Iya laah secara Kyu-Min ini roomate. ^^  tumblr_inline_n4va9lRRto1rgfqje
  11. Min itu kayaknya tau deh ketika mood Wook sedang nggak baik. wkwk. Ketika di acara V-Chart, kalian tau kan, SJM menangin penghargaan disana. Naah, semua member dapet couple masing-masing. HaeHyuk, ZhouRy, KyuMin, naah Wook Cuma sendirian aja. 😦 , pas waktu ZhouMi ngasih ucapan terima kasih, Wook berdiri agak dibelakang aja sendiri. Terus Umin ngelirik dan ngulurin tangannya buat ngajak Wook ke sampingnya. Kyaaaaa… kasian tuh evil disebelahnya Umin. Haha. Dia kebakaran kayaknya. *plaak abis tuh, Wook nggak cemberut lagi, dia ketawa-ketawa, senyum-senyum sambil nempel di lengan Umin. Dan si Umin Cuma senyum aja liat istrinya ceria lagi. eh?? Haha.. Adik maksudnya. >,<  *kayaknya Wook sering banget PMS deh. *dicekek Wook. BlWCU9gCEAE0rS_ fAGEPz3
  12. Saat SS5 Tokyo… ketika member ditanya siapa sih yang jadi sosok Hero dalam kehidupan mereka??? Daan, kalian tau kan jawaban Wook? —-Yesung. Semua member langsung ngegoda Wook. Dan diantara godaan itu, ada satu orang yang sepertinya nggak terima. Iyups dialah Umin. Haha. Dia sambil ngelirik Wook bilang “Mwo?”. Kalian perhatikan lagi deh, ketika member yang lain ngomong, Umin nggak komen apa-apa. Cuma saat Wook aja, dia nanya kayak gitu. Duuh… harusnya Wook bilang –Sungmin– bukan Yesung. *digeplak.
  13. Pernah sebelum Sungmin meninggalkan Sukira, ada seorang pendengar yang minta Umin nyium pipi Wook. Haha, Wook dengan bahagia-nya bilang “ayo kita lakukan”. Hihi… si Umin protes “nggak mau, kenapa harus kayak gitu” dan Wook langsung senyum malu-malu gitu. Kekeke.. Pasti Wook malu banget yah. *sembunyiin Wook.
  14. Waktu lipsinc lagunya Bada “The Best” di Sukira, Wook sambil ngegoda Umin, “You Are The Best Thing In My Life” Hahaw.. Umin Cuma senyum-senyum aja. Hahaw. tumblr_mj9306mICM1r4jxpwo1_500
  15. Umin itu bisa ketawa sampe jatoh dari kursinya cuma karena denger Wook yang bilang “o-jok”. Hihii.. Aku yakin pasti kalian udah pernah liat videonya, ketika di Sukira jaman DJ Eun-Teuk. Saat itu disuruh bikin closing untuk siaran. Dan semua member kebagian jatah masing-masing. Saat yang lain mengekspresikan suara ciuman dengan “mmuach” Cuma seorang aja yang aneh. Kim Ryeo Wook. Dia bilang “o-Jok” sebagai suara ciuman itu. Hihi. Daan, kalian lihat gimana reaksi Umin. Dia ketawa sampe nge-gelosor dari kursinya tuh. Keke. Duuh umin lebay. *dsigh.
  16. Dua anak ini paling parah kalo disuruh ngomong Engrish. Huahaha. *sama kayak gue deh. Pas siaran, Wook bilang “hallo, I’m Kim Ryeowook, Super Junior… Kiss.. Kiss… The Radio” hahaha. Dan pas giliran Umin… “eeh… my turn?… Kon… konichiwa…” Hahaha.. Dia dsuruh ngomong english, yang keluar malah Japan. Kekeke.

 

Apa lagi yah?? Aku lupa. Ntar deh, kalo ada yang baru-baru aku bagiin lagi buat kalian. Oke. Oke. Oke. Hahahaha. See U aja deh. 😀

Source: YouTube.

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2014 in Ryeowook Couple

 

Tag: , ,

MinWook at YinYueTai

Kekekeke, kangeeen banget sama MinWook moment. Dan baru kemarin nonton video-nya, berasa… ah pengen ketawa-ketawa gaje aja gitu. Hihii…  Ngeliat gimana akrabnya pasangan suami istri ini Ooops… maksudnya, pasangan adik-kakak yang imut-imut nan hensyem ini, bikin hati jadi berbunga-bunga, dan pipi jadi pegel karena terus-terusan senyum *dsigh. Oke deh tanpa ada basa-basi lagi, kita langsung aja liat moment-moment gimana aja yang tertangkap kamera YinYueTai ketika nge-interview SJM ini. Lets cekidot. ^^~~ v

 

 
1

Scene awal nih. Yang lain pada sibuk merhatiin si MC, eeh liat nih MinWook. Keekee, ngegosip aja nih oppadeul cute. *plaak

 

2

Naah ini pas ada pertanyaan apakah pernah ada insiden pas latihan. Umin bilang ketika dia mesti naik ke atas meja, tiba-tiba kakinya lemes. Bahkan dia  hampir terjatuh, meja nya kayaknya udah rusak. Itu muka Wook seperti bilang “masa sih Hyung?” ehhehe…

 

3

Kekeeke, terus kata Eunhyuk, ooh itu mah bukan salah meja dan kursi, tapi nooh salahin butt-nya Umin yang kegedean. Hahaha. Tuh, Wook aja ikut nyalahin butt-nya Umin yang very-very big. Hahaha. Ccck, liat juga  deh tatapan mata Wook. Dia kayak nyalahin Umin banget ya.  Makanya punya butt gk usah gede-gede, jadinya membahayakan. Kekeke, si Umin nahan marah, jadi kayak gitu deh muka nya. Aaawww… *pertengkaran suami istri *digorok.

 

4

Ini nih Umin di tanya, lagu apa yang direkomendasiin dari album Swing ini. Kata Wook sambil berbisik “Swing” eeh, Umin nurut jawab Swing.

 

5

Tapi tak lama kemudian, kata Wook, After A Minute. Daaan si Umin nurut aja.

 

6

Tapi, si Umin penasaran kenapa Wook ngubah jawabannya. Kata Wook, itu lagu ballad. Umin Cuma ngangguk-ngangguk aja setuju kalo itu emang lagu ballad. Tapi kemudian, meluncurlah jawaban Wook yang sebenarnya. “karena dia punya part yang lebih banyak di lagu itu” *gubraaakk. Si Umin sampe ketawa kayak gini nih. 7

 

 

8

Aaah, Wook, kayaknya sesuatu yang gimanaaa gitu bisa bersentuhan tangan dengan Umin tuh. ^^~

 

9

Ini waktu Wook menghindar dari “amukan” Eunhyuk. Hahaha. Kata Wook “itu siapa sih DJ nya? Ganteng banget” wew… narsis Wook. >,< dan aku yakin, Umin tuh lagi mandangin si DJ hensyem yang ditunjuk Wook. Umin kayak lagi mikir “ccckkk ni anak kapan narsisnya bakal ilang?”

 

 

10

Hahahaha, kalian tahu, kata Eunhyuk dia memang bukan orang paling ganteng di SM. Tapi ada satu orang yang menurut dia ganteng. Dialah Lee Soo Man. Hahaha. Oh my god… >,< disini siapa istrinya Soo Man, ayoo tunjuk tangan. Huahahaha..

 

11

Gini nih ekspresi para member setelah Eunhyuk bilang Lee Soo Man sebagai cowok paling ganteng di SM. Kekeke. Mereka nggak bisa  ngapa-ngapain — pasrah. *dsigh.

 

 

12

Kyuhyun cuteeeee.. Oh My… kenapa coba mereka kayak gini? Beugh, soalnya mereka ngeliat ZhouMi mesti nyanyi Swing dengan dance versi cute. Wkwkwkw 13

 

 

14

Aigoo, gini wajah penyesalan Wook. Dia lagi diomelin karena masakannya nggak seenak dulu. Bahkan Heechul dengan kejam bilang, ini nasi atau makanan kucing? Hiks.. Kasian Wookie Oppa 😦

 

15

Padahal niat Wook itu baik. Dia sayang sama semua member. Dia itu peduli sama kesehatan memberdeul, makanya dia masak yang sehat-sehat aja dan tanpa MSG. Daaan alhasil masakannya jadi sedikit “berbeda” dari biasanya. Kekeke. Kyuhyun dan Henry protes, mereka kangen sama masakan Wook yang dulu. Terus Kyu minta Wook biar bikin bubur pumpkin dan sweet pancake lagi. ^^ hihihi..

 

16

Centil Wook kumat *digebuk Ryeowook

 

17

Ini waktu ZhouMi ngejelasin apa arti dari “meme da”. Hahaha. Dan kalian tahu gimana ekspresi Kyuhyun??

 

18

Aaawww gini nih… duuh Kyu, kamu jadi cute beneran deh. >,<

-Aku paling suka liat Kyu yang manja ke Hyung-nya. Jadi keliatan gitu bahwa dia tuh maknae yang perlu disayang *dsigh. —-Henry jealous-

 

19

Akhem, niih Wook meragain “meme da” ke Umin. Akhem akhem akheemm.. Kekkee.

 

20

Sementara biarkan lah Kyuhyun mengatasi keterkejutannya atas makna ‘meme da’ yang sebenarnya. Mari kita lihat MinWook yang bener-bener aaah minta ditimpuk. Haha. MinWook oppa… meme da :*

 

21

Iihh wajahnya  Wook prikitiew..

 

22

Umin nih, paling jago kalo pake highheels. Gimana cara melatihnya? Kata Umin, itu cukup mudah sih bagi dia, soalnya disepatunya itu ada shoelift dengan ketinggian (?) 10cm. Jadi itu cukup ngebantu dia saat mesti pake high heels. Ini komen Wook pedes banget, berasa pake cabe dan merica disatuin. Haha.

“biasanya Sungmin pake high heels kalo tidur” wew.

 

23

Dan ini, seperti pembelaan Kyu buat Hyung kesayangan dia. “bukannya Wook ngoleksi High heel ya?” tanya Kyuhyun. Wook langsung berdiri sambil natap si Kyuhyun. Duuh, liat deh Kyu sampe mundur gitu ngeliat Wook yang “marah” sama dia. Dan Umin, seolah kaget mendengar pernyataan Kyuhyun barusan. Kekeke.

 

24

Masalah mendasar yang dimiliki oleh MinWook adalah hal yang sama. Yaitu, mereka memiliki kekurangan dalam hal tinggi badan. Haha. Alias, mereka itu member paling pendek *dicekek MinWook. Dan Wook nggak mau ngalah sama Umin. Dia bilang kalo Umin itu member paling pendek di Super Junior.

 

25

Tentu aja, Umin nggak terima. Dia marah ke Wook. “maksud Loh apa Wook????” Huwaaa… ini KDRT. Hihihi..

 

26

Kasian si Umin, jadi korban kepedasan lidah Wook. Hahaha. Eh liat deh, itu pas Umin ngambek, Wook menyilangkan tangan di dada. O_O umm, kalo Umin lagi ngamuk di dorm, biasanya Umin ngapain Wook ya? Kok Wook sampe reflek nutupin dadanya gitu. >///< aaah, kalian ingat nggak, apa julukan lain yang dimiliki Umin? Pervert fox.  Omonaaaa… Hihihi… kalian bayangin aja sendiri deh. Okeh. Huahaha..

 

27

Umin membela diri, setidaknya aku lebih tinggi darimu Wook. -Biarpun seandainya beda tingginya cuma 1cm, tapi tetep aja ya pengaruh. Haha-

 

28

Ih Wook keras kepala, dia nggak mau ngalah, terus aja bilang bahwa Umin itu yang paling pendek. Haha.

 

29

Adu pendapat ini akhirnya bisa diakhiri oleh satu orang yang sangat bijaksana di SJ. Siapa lagi kalo bukan Hyuk. *prok prok prok. Kata Hyuk, terlepas dari siapa yang lebih tinggi diantara MinWook, tapi mereka berdua itu member yang paling menderita. Kenapa, karena mereka harus pake shoelift yang tinggi sehingga membuat ankle mereka jadi sakit. Wew.

 

 

30

Ini wajah terakhir Umin. Wajah ngambek, kesel, sebel, ngenes, dendam, kayak gini nih. Hihihi..

 

 

32

Diakhir acara, diputarlah MV Swing. Dan lihat siapa yang sangat mengagumi dirinya sendiri? Iyups… Kim Ryeo Wook… haha…

 

33

Yang lain udah pada kemana…. Dia mah masih diem didepan TV sambil joget joget gaje. Kekkee.

 

 

Aaah segitu aja deh moment MinWook-nya. Gimana? Manis banget kan? Bikin diabetes nggak?? Waakkss.. >,<

 
15 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 12, 2014 in Ryeowook Couple

 

Tag: , ,

Ring Chap 1

Byun Hyerin Present ::
Ring
A Fanfiction MinWook
Rated : T
Genre : Horror and Romance
Warning : GS, aneh dan Miss Typo, gak serem x_x
.
This fanfiction is mine. Don’t Plagiat okey ^^
.
Dedicated for Kirey unni ^^
.
.
“Wah .. cincin yang indah”
“Hey itu milikku! Apa yang kau lakukan huh!!”
“AAaaaaa..”
.
.
Happy Reading ^^

“Caramel, apa kau serius ingin menempati rumah minimalis itu?” Tanya namja tampan dengan gigi kelincinya sebagai ciri kas seorang penerus Lee Corp dan sekaligus pemegang sabuk tertinggi di matrial art, Lee Sungmin.
“Ya, rumah itu minimalis aku suka, pengurus rumah itu bilang jika rumah itu ditinggalkan oleh pemiliknya entah kemana. lagi pula appa dan eomma setuju kok jika aku menepati rumah itu” jawab gadis mungil dengan tinggi di atas rata-rata tinggi siswi SHS sambil memasukkan barang barang yang akan dia bawa untuk pindah kedalam kardus yang sudah disiapkan maid dirumahnya maksudnya rumah milik orang tuanya. Kim Ryeowook puteri dari pemilik rumah sakit terbesar di korea selatan itu, walaupun ryeowook dari kalangan atas tetapi gadis itu selalu bersifat sederhana karena menurutnya harta yang dia miliki adalah hasil orang tuanya dan itu yang membuat seorang Lee Sungmin ‘tunangan ryeowook’ kagum kepada gadis mungil nan cantik itu.
.
“Dari luar saja rumah itu terlihat menyeramkan, bagaimana dalamnya pasti lebih menyeramkan” ujar sungmin sambil memainkan telinga boneka jerapah milik gadisnya yang berada dikasur.
” itu kan menurutmu oppa, tpi menurutku jika rumah itu ditempati pasti kesan menyeramkan yang kau bilang tadi akan luntur” balas ryeowook masih merapikan barang barangnya yang bisa dibilang banyak itu.
” aku takut terjadi apa-apa denganmu, caremel. Kau kan bisa tinggal di apartementku” protes sungmin
” ani, aku ingin merasakan bagaimana mempunyai rumah sendiri tanpa adanya para maid ” elak ryeowook
“Bagaimana jika ada perampok?”
“Oppa, aku sudah dewasa, bukankah kau mengajari ku matrial art untuk menjaga diri ketika kau tidak ada” jawab gadis mungil itu dan menghasilkan wajah masam dari sungmin,
.
gadisnya itu keras kepala jika sudah menginginkan sesuatu dan itu membuat sungmin sedikit jengkel dengan sifat gadisnya itu. Padahalkan menurutnya jika ryeowook tinggal di apartementnya dia kan bisa memeluk,Mencium, melihat gadisnya setiap waktu jika dia merinduhkan ryeowook tanpa harus ada jarak antara apartementnya dan rumah gadisnya dan tidur satu ranjang bersama ryeowook. Ckck dasar kau sungmin=_=
.
Ryeowook menghentikan aktivitasnya karena tidak mendengar protesan dari tunangan tampannya itu lagi, manik hazzle milik gadis mungil itu melirik kearah sungmin yang masih memasang wajah masamnya, terkikik sebentar sebelum berjalan ke arah namjanya yang tengah duduk diatas kasur king size miliknya.
“Oppa~” panggil ryeowook dengan suara manja, duduk disamping sungmin dan tangan mungilnya memeluk pinggang sungmin dari samping,
“…”
sungmin diam tak merespon ucapan ryeowook karena namja itu sedang kesal dengan ryeowooknya.
.
“Sungmin oppa~”
.
“Yak.. Lee Sungmin”
.
Masih tidak ada jawaban dari sungmin dan itu membuat ryeowook jengkel, gadis mungil itu paling tidak suka jika di acuhkan terlebih oleh namja tampannya itu
‘ish.. sebernarnya disini yang yeoja itu aku atau sungmin oppa sih? Kenapa dia malah merajuk bagitu =_=’ Pikirnya
.
“Oppa jangan mengacuhkanku. Aku akan tinggal bersamamu ketika kita menikah nanti, jika kau mengacuhkanku maka aku tidak ingin menikah denganmu” ucap ryeowook sedikit sadis .
Sungmin menoleh ke arah ryeowook dengan wajah bertambah masam
“Arrayo, aku setuju tapi kau harus menikah dengan ku ne?”
“Of course oppa” jawab ryeowook dengan senyum manisnya yang membuat sungmin mau todak mau ikut menyunggingkan senyumnya itu. Tidak kesal lagi kau lee sungmin kepada yeojamu?? Namja tampan itu tidak akan pernah bisa mendiamkan yeojanya lama-lama.
.
.
Ring
Byun Hyerin~
.
.
“Huh.. rumah ini banyak sekali debu debu. Apa tidak ada maid yang membersihkannya atau merawatnya” ujar sungmin sambil membersihkan debu debu yang menempel pada setiap barang barang dirumah itu. Ryeowook terkikik melihat tingkah namjanya
” kekeke tentu banyak debu karena rumah ini sudah dijual dan ditinggalkan oleh pemiliknya oppa pabbo! Dan jangan mengandalkan maid” kekeh ryeowook.
Sungmin memasang wajah cemberutnya
Okey adakah yang bertanya kemana pasangan MinWook pergi? Seperti yang kuceritakan di awal cerita ini ^^
.
Ryeowook melangkahkan kaki mungilnya menyelusuri ruangan ruangan yang terdapat di rumah minimalis itu Meninggalkan sungmin yang masih membersihkan ruang tamu dirumah itu.. rajin eoh? Kekeke. langkahnya berhenti di depan pintu sebuah ruangan yang terdapat pada rumah minimalis itu, ruangan yang dia ketahui sebagai kamar utama dirumah itu. Tangan mungil ryeowook perlahan membuka pintu dikamar itu perlahan
.
Cklek
.
Helaian rambut gadis mungil itu sedikit melambai karena angin kecil yang keluar dari kamar itu ketika gadis mungil itu membuka pintu kamar . Menekan saklar lampu yang terdapat disana, diedarkannya manik hazzlenya ke seluruh sudut dikamar itu, sedikit menyipitkan mata sipitnya ketika tidak sengaja manik hazzle nya menangkap sebuah benda kecil dibawah kolong tempat tidur.
.
‘Apa itu?’ Pikirnya
.
Karena penasaran mungkin ryeowook melangkahkan kakinya sedikit menundukan badannya dan menjulurkan tangannya guna mecapai benda kecil dibawah kolong kasur yang membuatnya penasaran.
.
“Cincin?” Gumamnya ketika benda kecil itu sudah ditangannya. Yah .. sebuah cincin dengan batu permata sebagai hiasannya. gadis mungil itu yakin pasti cincin itu milik seseorang yang pernah tinggal disini, tetapi yang ryeowook bingungkan bagaimana bisa pemilik rumah ini teledor meninggalkan cincin yang menurutnya indah itu, apa mungkin pemilik rumah ini sebelumnya lupa dan meninggalkan cincin itu? Atau mungkin pemilik rumah ini sengaja membuang cinci indah itu? Entahlah gadis mungil itu tidak tahu.
.
” lebih baik kupakai saja kekek” ujarnya sedikit mengusap cincin itu guna menghilangkan debu dan memakaikan cincin itu di jari manis tangan kirinya karena kalian sudah tau bukan bahwa dijari manis tangan kanan gadis mungil itu sudah terdapat sebuah cincin yang tak kalah indah dari cincin itu.
.
“Indah~”
Menatap manis cincin itu yang sudah terpasang dijari manis tangan kirinya.
Angin berhembus pelan melewati perpotongan leher jenjang gadis mungil itu, ryeowook sedikit menyerngitkan dahinya bingung, menatap kearah jendela yang masih tertutup rapat seperti semula dia datang,
‘Bukankah jendela itu tertutup? Bagaimana bisa ada angin?’ Pikirnya, manik hazzle nya menatap kesudut sudut kamar itu
.
“Hey..”
.
Ryeowook menatap ke arah suara lirih itu namun nihil tidak ada siapapun disana
.
“hihihi.. cincin itu milikku~” ujar suara itu lagi namun kali ini dengan sedikit tawa diawal ucapannya. Ryeowook menatap kearah pintu kamar mandi yang terbuka dikamar itu
.
Sekelebat bayangan hitam yang tertangkap oleh manik hazzlenya seperti sedang melintas didalam kamar mandi
“A..aapa itu?” gagapnya
.
“Hey..”
.
Degh..
.
Jantung ryeowook sedikit berdetak kencang ketika suara itu memanggilnya kembali dan sebuah tangan memegang pundak kanannya, entah kenapa lidahnya terasa kelu untuk berbicara, menelan ludah saja tidak bisa. Menengokkan kepalanya ke kanan guna melihat sosok yang memegangi pundak kanannya dan…
“Hai~”
“A…aaaa oppa!!!!”
.
.
TBC
.
Hey hyerin membawakan ff minwook horor maybe hehehe.. buat kirey unni ku ini loh . Mianhae kalau gk serem ceritanya hyerin baru belajar buat ff horor 😀 .. unni this is for you #hug
.
RnR
.
Sign
Byun Hyerin

 
10 Komentar

Ditulis oleh pada Mei 1, 2014 in Uncategorized

 

Tag: , , , ,